Comscore Tracker
MARKET

Tekanan Inflasi Mereda, Kinerja Manufaktur Melejit pada September 2022

Ekspansi manufaktur tertinggi dalam delapan bulan.

Tekanan Inflasi Mereda, Kinerja Manufaktur Melejit pada September 2022Ilustrasi pekerja di di industri manufaktur/Shutterstock/Gorodenkoff

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE – Industri manufaktur dalam negeri kembali membawa kabar menggembirakan di tengah upaya pemulihan ekonomi domestik. Sektor ini lagi-lagi menunjukkan daya seiring kenaikan permintaan dari dalam negeri.

Menurut laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2022 mencapai 53,7, atau naik dari 51,7 pada bulan sebelumnya. Angka PMI di atas 50 mengindikasikan industri pengolahan sedang bertenaga, dan sebaliknya di bawah 50 bisa dipastikan sektor ini tengah tertekan.

“Peningkatan PMI Manufaktur kali ini juga disebabkan kemampuan industri. Hal ini antara lain adanya efisiensi berkat pemanfaatan teknologi, peningkatan kemampuan SDM, dan kemudahan akses terhadap bahan baku,” kata Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam keterangan kepada media, Senin (3/10).

Menurutnya, kenaikan PMI turut menunjukkan kinerja sektor industri yang semakin membaik, serta menunjukkan perkembangan stabil.

Sebelumnya, S&P Global menyatakan produksi industri manufaktur naik pada kisaran tercepat dalam delapan bulan seiring ekspansi tajam permintaan baru.

Sedangkan, pada aspek harga, tekanan inflasi terus mereda, dengan harga input dan biaya output turun ke posisi terendah dalam 20 dan 15 bulan.

“Namun demikian, sentimen bisnis pada sektor manufaktur masih di bawah rata-rata historis, turun ke posisi terendah dalam tiga bulan. Sementara beberapa perusahaan tetap optimistis tren permintaan akan terus bertahan, perusahaan lain khawatir tentang dampak inflasi terhadap perekonomian secara luas,” kata Ekonom S&P Global Market Intelligence, Laura Denman.

Resiliensi manufaktur

ketahui perbedaan UMK dan UMR

Kinerja PMI sedemikian turut menyiratkan resiliensi dari industri manufaktur dalam negeri, menurut Agus. Kondisi itu ditengarai akibat rantai pasok yang terjaga sehingga mendukung produktivitas.

“Upaya ini terus dipacu melalui kebijakan yang strategis guna mendongkrak daya saing industri nasional,” ujarnya.

Peningkatan produksi ini dapat ditengok pada sejumlah subsektor industri, di antaranya industri elektronika, industri bahan galian non-logam, serta industri mesin dan perlengkapan YTDL.

Di industri elektronika, misalnya, kenaikan terutama terjadi pada produksi produk laptop untuk memenuhi permintaan realisasi belanja pemerintah dan pemerintah pusat yang mewajibkan pembelian Produk Dalam Negeri (PDN).

Selanjutnya, kenaikan produksi industri bahan galian nonlogam, meliputi produk semen, keramik, dan kaca dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah, serta properti oleh para pengembang.

PMI Manufaktur Indonesia menonjol ketimbang sejumlah negara lain. Sebagai bukti, PMI Manufaktur Malaysia hanya 49,1, Vietnam 52,5, dan Filipina 52,9, Jepang 50,8, Korea Selatan 47,6, dan Cina 48,1. 

Related Articles