Restrukturisasi Utang Rp3 Triliun, ADHI Teken MRA dengan Himbara

- ADHI menandatangani MRA dengan Bank Mandiri, BRI, dan BNI pada 18 September 2026 untuk merestrukturisasi utang sekitar Rp3 triliun; Bank Mandiri menjadi agen fasilitas.
- Utang dibagi tiga tranche: Rp1,54 triliun berjangka 15 tahun, Rp1,45 triliun berjangka lima tahun dari divestasi, serta bunga standstill dibayar bertahap 18 bulan.
- ADHI melanjutkan transformasi dengan fokus pada konstruksi, penyederhanaan bisnis, efisiensi teknologi, dan penguatan keuangan; operasional serta proyek disebut tetap berjalan normal.
Jakarta, FORTUNE - PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menandatangani Master Restructuring Agreement (MRA) dengan tiga bank BUMN untuk merestrukturisasi utang perseroan senilai total Rp3 triliun per Juli 2026, termasuk pokok serta bunga.
Adapun, tiga bank yang terlibat dalam perjanjian tersebut yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Bank Mandiri dalam hal ini bertindak sebagai agen fasilitas restrukturisasi yang ditandatangani pada pada 18 September 2026 tersebut.
Poin kesepakatan itu membagi rencana pembayaran utang ADHI ke dalam tiga tranche atau kelompok. Tranche A mencakup pinjaman sekitar Rp1,54 triliun yang akan dilunasi dalam 15 tahun sejak tanggal efektif dengan skema balloon payment. Bunga pinjaman ditetapkan 3,5 persen per tahun, dengan 1 persen dibayarkan secara tunai setiap tiga bulan dan 2,5 persen ditangguhkan dan dibayar pada 2041.
Sementara Tranche B mencakup pinjaman sebesar Rp1,45 triliun yang akan dilunasi dalam lima tahun dengan skema bullet payment. Pembayaran utang ini bersumber dari hasil divestasi yang dilakukan ADHI. Bunga ditetapkan sebesar 1 persen per tahun dan dibayarkan setiap tiga bulan.
Tranche C mencakup bunga atau bagi hasil yang timbul sejak tanggal persetujuan standstill. Kewajiban tersebut akan dibayarkan secara bertahap selama 18 bulan tanpa tambahan bunga.
Direktur Utama ADHI, Moeharmein Zein Chaniago, mengatakan MRA merupakan proses awal dari tahapan penyehatn perusahaan untuk memperkuat struktur keuangan, menciptakan ruang likuiditas yang lebih sehat, serta menjaga keberlangsungan usaha dalam jangka panjang.
"Kami membutuhkan komitmen dan konsistensi dari seluruh pihak agar dapat membangun fundamental bisnis yang semakin sehat, menciptakan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di masa depan serta memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pembangunan dan perekonomian negara," ujar Moeharmein dalam keterangan tertulisnya, Minggu (20/9).
Sejalan dengan proses restrukturisasi, ADHI melanjutkan agenda transformasi perusahaan dengan mengembalikan fokus pada bisnis inti engineering dan konstruksi.
Moeharmein menilai, langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan penyederhanaan organisasi dan portofolio bisnis, efisiensi operasional berbasis teknologi, serta penguatan pengelolaan keuangan dan pengadaan.
ADHI memastikan kegiatan operasional dan pelaksanaan proyek berjalan secara normal dan proyek-proyek tetap dijalankan sesuai dengan tenggat yang disepakati. Menurutnya keberlanjutan bisnis konstruksi tidak hanya penting bagi perusahaan, tetapi juga memberikan dampak bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, perputaran ekonomi di sekitar proyek, serta keberlanjutan pembangunan infrastruktur yang mendukung aktivitas masyarakat.
Ke depan, perusahaan berkomitmen menjalankan implementasi MRA secara transparan dan akuntabel dengan terus menjaga komunikasi bersama seluruh pemangku kepentingan, serta selektivitas dalam perolehan kontrak baru sebagai bagian dari upaya membangun ADHI yang lebih sehat, tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan.


















