Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Aroma Nusantara dan Narasi Jadi Kunci Parfum Lokal untuk Bersaing
ilustrasi parfum (pexels.com/RF._.studio _)
  • Industri parfum lokal mulai membangun identitas dengan memanfaatkan kekayaan bahan baku Nusantara seperti minyak nilam dan rempah, yang selama ini banyak diekspor sebagai bahan mentah.
  • Pengamat menilai potensi besar tanaman atsiri Indonesia dapat menjadi kekuatan utama bagi jenama lokal untuk menciptakan karakter wewangian khas yang kuat dan berbeda dari merek global.
  • Brand seperti HMNS dan Kitschy menggabungkan bahan lokal serta narasi personal dalam setiap aroma, menghadirkan pengalaman emosional yang terhubung dengan memori dan suasana tertentu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Industri parfum lokal mulai mencari identitasnya sendiri dengan memanfaatkan kekayaan bahan baku Indonesia. Dari minyak nilam hingga berbagai rempah, potensi aroma Nusantara dinilai dapat menjadi fondasi bagi lahirnya karakter wewangian khas Indonesia.

Data Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 40 dari 97 jenis tanaman atsiri yang dikenal di dunia. Selama ini, bahan-bahan tersebut banyak diekspor sebagai bahan mentah untuk industri parfum global.

Sejumlah rumah mode internasional seperti Chanel, Dior, dan Yves Saint Laurent bahkan menggunakan minyak nilam atau patchouli asal Indonesia sebagai bagian dari racikan parfum mereka.

Pengamat bisnis, Kafi Kurnia, menilai kekayaan bahan baku ini seharusnya menjadi kekuatan bagi jenama lokal untuk membangun identitas wewangian sendiri.

“Kita punya banyak bahan baku unik. Tantangannya adalah bagaimana meracik parfum dengan karakter yang kuat dan khas,” ujarnya kepada Fortune Indonesia, dikutip Jumat (13/3).

Beberapa brand lokal mulai memanfaatkan potensi tersebut. Salah satunya adalah HMNS yang menghadirkan parfum dengan bahan seperti palmarosa dari Jawa Tengah sebagai bagian dari komposisi aromanya. Pendiri HMNS, Rizky Arief Dwi Prakoso, mengatakan setiap parfum yang mereka ciptakan selalu memiliki cerita di balik aromanya.

Pendekatan serupa juga diambil oleh Kitschy. Pendiri Kitschy, Emiria Larasati, menjelaskan bahwa ide aroma parfum sering kali berasal dari memori atau pengalaman tertentu.

Menurut Rara, aroma memiliki kemampuan kuat untuk memicu ingatan. Wangi tertentu dapat langsung mengingatkan seseorang pada momen, tempat, atau orang tertentu.

“Parfum itu dekat sekali dengan memori. Ketika seseorang mencium aroma tertentu, mereka bisa langsung teringat pada pengalaman tertentu, misalnya wangi hujan atau kenangan dengan seseorang,” ujarnya.

Pendekatan tersebut dihadirkan dalam koleksi parfum Kitschy yang menonjolkan emosi tertentu. Misalnya, seri Kitschy Feels menghadirkan konsep seperti Golden Hour, yang menggambarkan suasana hangat menjelang matahari terbenam dengan aroma citrus dan honey, serta Date Night yang menghadirkan nuansa romantis melalui aroma bunga seperti tuberose.

Editorial Team