Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Biaya Energi Melonjak Akibat Perang, Indocement Naikkan Harga Semen
Dok. Indocement
  • Indocement menaikkan harga semen 2–4 persen akibat lonjakan biaya energi hingga 35,6 persen yang dipicu perang Iran-AS-Israel dan kenaikan harga bahan bakar industri.
  • Kenaikan biaya produksi mencapai 5–6 persen di luar Jawa dan 2–3 persen di Jawa, dipengaruhi oleh biaya tambang, logistik, serta fluktuasi nilai tukar rupiah.
  • Meski pendapatan bersih turun 4,4 persen pada 2025, Indocement masih mencatat kenaikan laba bersih 12 persen berkat penjualan aset senilai Rp670 miliar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) berencana menaikkan harga jual di tengah lonjakan biaya operasional, terutama akibat naiknya biaya energi seiring memanasnya kondisi geopolitik dunia dan perang Iran melawan AS dan Israel.

Presiden Direktur Indocement, Christian Kartawijaya, mengatakan harga bahan bakar untuk industri telah mengalami kenaikan secara bertahap sepanjang awal tahun. Jika dibandingkan Januari, harga energi meningkat 11 persen pada Maret, kemudian naik menjadi 22 persen di pertengahan Maret, dan kenaikan secara akumulatif mencapai 35,6 persen per 1 April.

Kenaikan tersebut berdampak langsung terhadap struktur biaya produksi perusahaan. Dari sisi operasional, biaya tambang (mining cost) yang menyumbang sekitar 10 persen dari total biaya produksi ikut terdampak, dengan kenaikan fuel berkontribusi sekitar 3,6 persen terhadap total biaya. Selain itu, tekanan juga datang dari sisi logistik, khususnya bunker fuel untuk distribusi ke luar Jawa.

Saat ini, komponen bahan bakar menyumbang sekitar 45 persen dari biaya kapal, sementara total biaya pengiriman mencapai 15 persen dari total biaya produksi. Dengan kondisi tersebut, tambahan beban logistik diperkirakan mencapai 4–5 persen.

Secara keseluruhan, perusahaan memperkirakan kenaikan biaya produksi mencapai 5–6 persen untuk wilayah luar Jawa, dan sekitar 2–3 persen di Jawa, yang lebih banyak dipengaruhi oleh biaya tambang dan proses produksi.

Menghadapi tekanan biaya tersebut, perusahaan mulai melakukan kenaikan harga secara bertahap.

“Kami melakukan penyesuaian secara bertahap dan sangat berhati-hati. Saat ini, harga baru naik sekitar Rp1.500–Rp3.000 per sak (sekitar 2–4 persen). Ini masih jauh dari total tekanan biaya yang kami alami, karena kami harus mempertimbangkan daya beli pasar,” kata Christian dalam paparan kepada media, Rabu (1/4 ).

Meski demikian, kenaikan itu menurutnya masih jauh dari ideal. Untuk kawasan luar Jawa, idealnya butuh kenaikan harga Rp3.000–Rp5.000 per sak untuk mengimbangi kenaikan biaya operasional. Sementara di Jawa perlu penyesuaian harga sekitar Rp1.500–Rp2.000 per sak

“Namun implementasinya tidak bisa sekaligus, karena harus melihat kemampuan pasar menyerap kenaikan tersebut,” ujarnya.

Selain biaya energi, harga batu bara dan fluktuasi nilai tukar rupiah juga tak luput dari perhatian perseroan. Batu bara menyumbang 30–40 persen biaya produksi, dan saat ini harganya juga meningkat.

“Sekitar 40–50 persen biaya kami berbasis dolar AS, sehingga pelemahan rupiah ikut menambah tekanan. Karenanya, perusahaan masih terus menghitung total dampak biaya, termasuk menunggu update harga batu bara terbaru sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” ujarnya.

Di sisi lain, dia juga mencermati dampak kenaikan harga terhadap daya beli konsumen, termasuk potensi beralihnya konsumen Tiga Roda ke produk semen lain berharga murah.

“Itu menjadi perhatian utama kami. Secara prinsip, kenaikan biaya produksi memang harus diteruskan ke pasar agar industri tetap sehat. Namun, jika pasar tidak mampu menyerap, maka sebagian beban harus kami tanggung,” katanya.

Saat ini, Indocement memiliki produk semen harga terjangkau lewat second brandnya yakni Rajawali dan Jempolan. Namun, komposisi produk tersebut dijaga di kisaran 20–30 persen agar dapat menjaga profit tetap sehat.

Sepanjang 2025, Indocement membukukan pendapatan bersih sebesar Rp17, triliun, turun 4,4 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, EBITDA perseroan mampu naik tipis 0,5 persen dan laba bersih meningkat 12 persen.

“Kenaikan ini bukan berasal dari operasional inti, melainkan dari gain penjualan aset senilai sekitar Rp670 miliar,” kata Christian.

Di tengah situasi ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko bisnis, khususnya pada kenaikan biaya energi baik batu bara dan bahan bakar, sehingga disiplin pengendalian biaya dan pemakaian bahan bakar alternatif kembali menjadi kunci bagi produsen semen untuk dapat mempertahankan kinerja perusahaan tahun ini.

Editorial Team

EditorEkarina .