Jakarta, FORTUNE - Emiten pemilik Blibli, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), optimistis dengan prospek kinerja di semester-II 2026. Salah satunya, karena adanya beberapa faktor musiman untuk mendorong kinerja di sisa waktu 2026.
Direktur PT Global Digital Niaga Tbk, Kusumo Martanto, mengatakan, di sisa paruh kedua 2026, persroan akan tetap melanjutkan strategi ekosistem omnichannel. Selain itu, perseroan juga akan memanfaatkan semua momentum yang ada di peride tersebut.
"Seperti pre-order dengan iPhone 18. Kemudian akan ada hari belanja online nasional, dan tentunya liburan akhir tahun. Kami percaya semua momentum ini akan memberikan dampak positif," kata Kusumo dalam paparan publik BELI, dikutip Kamis (15/10).
Faktor ketiga yang akan mendorong optimisme BELI pada paruh kedua adalah dampak lanjutan dari strategi ekspansi jaringan toko fisik perseroan. Hingga September 2026, BELI telah memiliki 347 toko elektronik konsumen, 24 toko elektronik rumah tangga, 60 gerai supermarket premium, 39 home and living experience centers, serta 1 toko fesyen dan olahraga.
"Kami melihat jaringan toko fisik yang semakin luas, ini sudah mulai masuk ke dalam ramping up. Kami percaya di semester-II ini kami melihat akan mendapatkan kontribusi yang lebih besar lagi seiring dengan peningkatan produktivitas ataupun Same Store Sales Growth yang lebih baik," ujar Kusumo.
Sejalan dengan berbagai katalis tersebut, Blibli juga akan secara disiplin mengelola biaya sepanjang semester-II, seperti yang sudah dilakukan pada semester-I dan pada 2025. Persentase beban operasional konsolidasi terhadap total processing value (TPV) turun dari 7,2 persen pada semester-I 2025 menjadi 6,3 persen pada semester-I 2026. Itu membuat persentase EBITDA konsolidasi terhadap TPV naik 170 basis poin.
Selama paruh-I 2026 BELI sendiri mencetak pendapatan senilai Rp14,8 triliun. Itu selaras dengan pertumbuhan dua digit pada seluruh segmen bisnis, khususnya segmen institusi dan toko fisik.
Selain pendapatan, take rate BELI pun naik dari 8,6 persen pada semester-I 2025, menjadi 9 persen pada periode yang sama di 2026. Itu berkat kenaikan take rate pada segmen ritel 1P dan ritel 3P.
"Di tengah pola belanja konsumen yang semakin selektif dan persaingan pasar yang ketat, kami berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang sehat sekaligus terus meningkatkan profitabilitas," ujar Kusumo.
