Jakarta, FORTUNE - CEO Blue Bird Group, Andre Djokosoetono, mengatakan perusahaan tidak menjadikan kompetitor sebagai fokus utama, melainkan sebagai cermin untuk mengevaluasi relevansi layanan yang diberikan kepada pengguna.
Hal itu dilakukan di tengah perubahan model bisnis, persaingan ketat industri, hingga disrupsi teknologi.
“Kompetitor ada enggak yang sama? Ada enggak yang lebih konsisten dari yang pada kita? Itu buat refleksinya. Kalau harga ya pasti penting. Tetapi bukan yang utama, karena kami percaya bahwa yang membuat perusahaan bertahan sampai dengan sekarang adalah pelayanan yang jauh lebih konsisten, lebih baik dibandingkan yang lain,” ujarnya dalam sesi Fortune Indonesia Summit 2026 bertajuk More than Competition, It Starts with You di Jakarta, Kamis (12/2).
Ia menambahkan, sejak awal perusahaan didirikan dengan misi menghadirkan kebahagiaan bagi pelanggan melalui layanan transportasi yang konsisten. Fokus pada kualitas layanan dinilai menjadi pembeda utama dibandingkan pemain lain di industri.
Menurut Andre, disrupsi teknologi sempat memunculkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan bisnis taksi konvensional. Namun, perusahaan memilih beradaptasi dengan mempelajari model bisnis baru dan teknologi yang berkembang di pasar.
“Disrupsi bukan hanya dari kompetitor, tapi juga dari model bisnis baru. Kami belajar apa yang relevan untuk customer, lalu menyesuaikan tanpa mengubah core layanan,” ungkapnya.
Bluebird sendiri telah memiliki aplikasi pemesanan sejak 2012, meski saat itu platform masih terbatas. Perusahaan kemudian mengembangkan layanan digital lebih lanjut dan menyesuaikan fitur sesuai kebutuhan pelanggan, termasuk skema harga pasti (fixed price) sesuai dengan apa yang relevan di pasar.
Selain teknologi, perusahaan juga menaruh perhatian besar pada pengemudi sebagai garda terdepan layanan. Saat ini, Bluebird memiliki hampir 28 ribu pengemudi.
Perusahaan secara rutin melakukan pembinaan, pelatihan, serta membuka jalur komunikasi dua arah agar masukan dari pengemudi dapat disampaikan langsung ke manajemen.
Andre menyebut komunikasi internal tersebut penting untuk menjaga kualitas layanan sekaligus memastikan kebijakan perusahaan selaras dengan kebutuhan di lapangan.
Manajemen juga mendorong keterlibatan langsung, termasuk bagi jajaran manajemen menengah untuk merasakan pengalaman melayani pelanggan secara langsung.
“Happy people can deliver happiness. Jadi itu yang paling kita kedepankan human connections antara manajemen dengan frontliner kita termasuk dispatcher,” imbuhnya.
Transformasi Bisnis Harus Top Down
Sementara itu, menurutnya, transformasi bisnis di tengah disrupsi industri transportasi perlu dimulai dari komitmen manajemen puncak dan diikuti seluruh organisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan.
“Transformasi itu harus top down. Komitmennya dari atas sampai ke bawah harus didorong, lalu diikuti buy-in dari seluruh organisasi,” tutur Andre.
Ia menjelaskan, kesepakatan bersama di internal perusahaan menjadi faktor penting agar setiap langkah perubahan dapat dijalankan secara serentak.
Keputusan yang diambil manajemen tidak selalu langsung menghasilkan hasil yang tepat, namun menjadi bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan.
“Jadi, kita jangan terpuruk karena ada kesalahan, kegagalan. Kita jangan jumawa kalau ada kesuksesan. Makanya kita selalu harus open mind bahwa hari ini apa yang bisa kita belajar dari yang lalu yang gagal atau apa yang harus kita pertahankan ke depannya. Jadi mindset nya selalu begitu,” tegasnya.
