Jakarta, FORTUNE - Platform komunikasi visual, Canva, baru saja meluncurkan kampanye Ramadan perdana di Indonesia dengan tajuk #DigordeninCanva. Strategi itu diterapkan sebagai bagian dari upaya perusahaan asal Australia tersebut untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu mesin pertumbuhan paling dinamis.
Sebagai konteks, Indonesia saat ini menempati posisi sebagai pasar terbesar ketiga Canva secara global.
Kampanye tersebut mengalihfungsikan tirai warung makan di Jakarta menjadi ruang kreatif. Tirai yang biasanya berfungsi sebagai penutup selama Ramadan kini dapat beralih menjadi billboard dengan pesan-pesan jenaka. Perusahaan menggandeng kreator populer, Kak Jill, sebagai wajah gerakan ini guna menyoroti kreativitas pelaku UMKM.
Stefani Herlie, Country Manager Canva Indonesia, menyatakan kehadiran perusahaan memang bertujuan memberikan akses kreativitas bagi semua kalangan.
"Misi Canva yang saya rasa sangat dekat dengan saya personally, yaitu untuk memberdayakan semua orang untuk bisa mengekspresikan dirinya sendiri, dalam hal ini melalui desain," ujarnya di hadapan wartawan di Jakarta, Jumat (20/2).
Tidak hanya di jalanan, Canva juga memperkuat lokalisasi di dalam platform. Lebih dari 33.000 template Ramadan diluncurkan. Kolaborasi pun terbentuk dengan kreator komik, Tahilalats, yang menyuguhkan template edisi terbatas dengan sentuhan humor khas Indonesia.
Kampanye ini juga akan diperkuat oleh deretan kreator lokal seperti Bang Ucup, Faiz Sadad, dan Acid pada berbagai platform media sosial.
Dalam urusan pertumbuhan, para pengguna Canva di Indonesia pada 2025 telah menghasilkan lebih dari satu miliar desain. Artinya, rata-rata tiga juta desain tercipta setiap hari. Ekosistem ini didukung oleh lebih dari 360 kreator aktif dan 180 duta Canva yang tersebar di 34 provinsi.
Laura Kantor, Head of Marketing Southeast Asia Canva, menekankan pentingnya sentuhan lokal dalam strategi pemasaran perusahaan.
"Sangat penting bagi kami untuk tidak hanya mengambil Canva dari Australia atau Amerika Serikat dan sekadar menerjemahkannya. Kami memastikan template, konten, dan pengalaman pengguna benar-benar terasa lokal," ujar Laura di hadapan wartawan di Jakarta (20/2).
Menurutnya, 2025 menjadi fondasi penting bagi identitas brand perusahaan di pasar domestik.
"Saya rasa inilah saat ketika kami yakin Canva telah menemukan jati dirinya, dan ini adalah tentang memperkuat berbagai fondasi kokoh yang akan terus kami kembangkan untuk 2026." katanya.
Canva juga telah mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui peluncuran Creative OS sebagai bagian dari pembaruan platform desain, Visual Suite. Stefani menjelaskan bahwa AI diposisikan sebagai pengganda produktivitas (multiplier), tapi tetap di bawah kendali manusia.
"AI di sini hanya berfungsi sebagai tools untuk membuat desain menjadi lebih efisien dan lebih praktis. Tapi, pada dasarnya untuk ide dan kreativitas masih dimiliki oleh manusia atau kreatornya sendiri," ujarnya.
Sebagai bagian dari investasi jangka panjang, perusahaan juga berencana terus melakukan rekrutmen talenta lokal.
"Dengan mempekerjakan tenaga lokal, kami bisa membuat produk yang jauh lebih relevan dan jauh lebih cocok untuk para pengguna di Indonesia," kata Stefani.
