Jakarta, FORTUNE - PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terus melakukan diversifikasi dan melengkapi segmen usaha untuk melanggengkan bisnisnya. Hingga kini, DSSA bergerak di sejumlah sektor bisnis seperti pertambangan pengembangan energi baru terbarukan, perdagangan bahan kimia, hingga penetrasi agresif ke dalam infrastruktur digital dan teknologi mutakhir.
Dian Swastatika Sentosa memiliki delapan entitas anak langsung, dan lebih dari 80 entitas anak tidak langsung. Adapun keberhasilan transformasinya tecermin pada fundamental perusahaan yang tetap kokoh di tengah fase normalisasi harga komoditas global.
Berdasarkan laporan kinerja konsolidasian untuk periode sembilan bulan pertama 2025, DSSA mengantongi pendapatan usaha US$2 miliar. Perseroan juga mengatongi laba periode berjalan menyentuh US$275,1 juta, dengan EBITDA US$335 juta dibarengi sejumlah inovasi.
Presiden Direktur DSSA, Krisnan Cahya, mengatakan langkah awal transformasi bisnis merupakan proses bertahap yang lahir dari kesadaran bahwa peta persaingan dan kebutuhan industri tengah berubah.
Dalam pandangan strategis manajemen, pengembangan infrastruktur digital dan teknologi dilihat sebagai pilar strategis yang penting bagi pertumbuhan jangka panjang.
Selain itu, pesatnya pertumbuhan pasar digital Indonesia serta meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur dan layanan berbasis teknologi menjadi alasan kuat bagi perusahaan grup Sinar Mas ini untuk berani melangkah ke sektor yang sekilas tampak berbanding terbalik dengan lini usaha utamanya saat itu.
"Meskipun berbeda secara operasional, kedua lini bisnis ini saling melengkapi dan menciptakan sinergi yang mampu meningkatkan efisiensi, inovasi, dan nilai tambah," ujar Krisnan.
Kehadiran digital bakal membuka ruang integrasi lebih luas dan bernilai tinggi. Teknologi broadband dan konektivitas digital dapat mendukung operasionalisasi energi melalui pemantauan jarak jauh, analitik data presisi, serta automasi proses yang secara signifikan meningkatkan produktivitas dan keselamatan kerja.
Selain itu, DSSA memiliki pengalaman panjang dalam mengelola aset fisik dan proyek berkapasitas besar menjadi fondasi kuat untuk membangun infrastruktur digital yang andal, aman, dan berkapasitas tinggi.
Adapun, transformasi ke arah digital ditandai dengan langkah strategis entitas anaknya, PT Eka Mas Republik (MyRepublic) yang 18 Oktober lalu memenangkan lelang pita frekuensi 1,4 GHz yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Kemenangan tersebut mencakup dua wilayah krusial, yaitu regional 2 (Sumatra, Bali, dan Nusa Tenggara) serta regional 3 (Kalimantan dan Sulawesi).
Pencapaian itu pun disebut-sebut menjadi katalis penting bagi perluasan layanan internet, terutama untuk masyarakat di wilayah yang seringkali menghadapi keterbatasan akses broadband.
Ekspansi ini sejalan dengan komitmen MyRepublic menghadirkan layanan yang terjangkau dan menjangkau lebih banyak titik geografis. Karakteristik spektrum 1,4 GHz yang memiliki jangkauan luas dan sinyal stabil menjadi kunci utama.
Sementara itu, keputusan MyRepublic Indonesia untuk berfokus pada regional 2 dan 3 didasari pertimbangan strategis terhadap potensi besar wilayah Sumatra, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi. Daerah-daerah tersebut memiliki kebutuhan konektivitas yang tinggi, tapi masih tingkat penetrasi internetnya terbatas.
Dengan memanfaatkan spektrum 1,4 GHz yang ideal untuk fixed wireless access (FWA), perusahaan dapat mempercepat perluasan akses internet berkualitas ke lebih banyak masyarakat tanpa mengorbankan kualitas jaringan.
