Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Di Tengah Perang, Kebijakan Tarif 0 Persen AS Jadi Angin Segar Industri Tekstil RI
Konferensi pers Indo Intertex & Inatex di Jakarta, Rabu (8/4)/Dok Fortune IDN
  • Kebijakan Agreement on Reciprocal Trade (ART) meningkatkan daya saing serta potensi ekspor hingga sepuluh kali lipat.

  • Industri TPT menopang 4 juta tenaga kerja dan berdampak pada 20 juta masyarakat.

  • Pameran Indo Intertex & Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran akan menghadirkan lebih dari 800 peserta dari 29 negara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Kebijakan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) menjadi angin segar industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Pasalnya, tarif dagang AS-RI disepakati nol persen bagi produk tekstil dan garmen Indonesia melalui skema tariff-rate quota (TRQ).

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, menyebut kebijakan ini mampu meningkatkan daya saing produk nasional di pasar AS. Bahkan, pihaknya optimistis nilai ekspor TPT yang saat ini mencapai US$4 miliar per tahun bakal naik hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan.

“Akses ke pasar global semakin terbuka, sehingga memperkuat daya saing Indonesia di momentum yang tepat. Kami berharap ini dapat menjadi titik awal kebangkitan industri tekstil dan produk tekstil dengan mendorong masuknya investasi, meningkatkan kinerja ekspor, serta menggerakkan kembali seluruh ekosistem industri,” kata Jemmy saat acara konferensi pers Indo Intertex & Inatex di Jakarta, Rabu (8/4).

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mencatat bahwa sektor tekstil dan pakaian masih tumbuh 5,39  persen (YoY) hingga akhir 2025. Saat ini, industri TPT telah menopang 4 juta tenaga kerja dan memberi dampak ekonomi bagi hingga 20 juta masyarakat Indonesia.

Industri tekstil masih hadapi berbagai tantangan

Ilustrasi Pabrik Tekstil

Meski demikian, industri ini masih dibayangi oleh berbagai tantangan, seperti ketergantungan terhadap bahan baku global hingga perang yang terjadi di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, menyatakan pelaku usaha was-was akan penutupan Selat Hormuz yang sempat terjadi pada pertengahan Maret 2026.

“Kita harus mengevaluasi dari sisi industri kita, apakah kita siap untuk menghadapi eskalasi lebih besar lagi. Karena perang ini akan berlangsung lama tidak satu dua bulan saja, bahkan eskalasinya bisa lebih masif. Makanya, kami juga dari sisi industri agak sedikit was-was kita pantau terus terkait dengan harga bahan baku. Sebab chemical kita semua dari Saudi,” ujar Farhan.

Kondisi ini diperparah dengan terkereknya harga paraxylene—yang merupakan bahan baku utama polyester—hingga mencapai US$1.300 per ton. Dalam dua pekan terakhir, kenaikannya sekitar 40 persen.

Ia berharap pemerintah dapat mewadahi keresahan pemain industri dengan memberikan kepastian kebijakan. Pemerintah juga diharapkan dapat berdialog langsung dengan pihak Iran atau AS-Israel agar dampak perang ini tidak semakin meluas. 

Meski demikian, ia yakin industri ini dapat bertahan melewati berbagai tantangan. Menurutnya, industri harus terus bertransformasi untuk dapat beradaptasi dengan pasar.

Indo Intertex & Inatex kali ini memasuki edisi ke-22, dan akan diselenggarakan pada 15–18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Menempati area seluas lebih dari 35.000 meter persegi, Indo Intertex & Inatex 2026 akan diikuti oleh lebih dari 800 peserta yang mewakili 1.500 merek global, serta menargetkan kehadiran lebih dari 35.000 pengunjung profesional dari 29 negara.

Editorial Team