Jakarta, FORTUNE – PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL) mulai memetik buah manis. Anak usaha PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) ini membukukan penjualan bersih Rp6,49 triliun sepanjang 2025. Angka ini mencerminkan lonjakan tajam 34,1 persen dibandingkan dengan raihan tahun sebelumnya yang bertengger pada angka Rp4,84 triliun.
Kinerja ERAL ini sejalan dengan potret optimistis Bank Indonesia (BI). Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh 4,4 persen (YoY), dengan sektor makanan, minuman, dan aksesori sebagai motor penggerak utamanya.
Analis pasar saham sekaligus Direktur Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menilai strategi diversifikasi emiten ini mulai menampakkan taringnya. Erajaya yang selama ini kadung identik sebagai kampiun distributor ponsel pintar, kini sukses membangun sumber pendapatan baru. Dengan merambah segmen fashion, lifestyle, hingga kuliner, ERAL tak lagi sepenuhnya bergantung pada siklus pendek industri perangkat seluler.
“Strategi ini cukup sukses mendiversifikasi bisnis Erajaya di luar lini smartphone yang selama ini mendominasi. Dengan portofolio brand yang lebih beragam, perusahaan memiliki peluang untuk menangkap pertumbuhan konsumsi di segmen lifestyle yang sedang berkembang,” kata Wawan dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/4).
Langkah ERAL memboyong deretan merek beken asal Asia ke pasar domestik terbukti jitu. Dalam portofolionya, ERAL kini menggandeng jenama sport dan fashion seperti ANTA, ASICS, hingga Gentlewoman. Tak berhenti di situ, lewat Erajaya Food & Nourishment (EFN), pundi-pundi perseroan juga dipertebal oleh popularitas gerai CHAGEE dan Paris Baguette.
Menurut Wawan, karakter merek Asia yang adaptif terhadap selera regional menjadi magnet kuat bagi konsumen muda di perkotaan. Namun, ia menyisipkan catatan kecil bagi para investor. Fase ekspansi agresif biasanya dibarengi dengan membengkaknya biaya operasional, mulai dari sewa gerai hingga belanja iklan demi membangun kesadaran merek.
“Dalam jangka pendek, pertumbuhan penjualan menjadi katalis positif. Namun setelah fase ekspansi ini, investor biasanya akan mulai melihat bagaimana perusahaan meningkatkan efisiensi operasional dan memperbaiki margin,” kata Wawan.
Setali tiga uang, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, mengamati adanya fenomena pergeseran selera di tingkat akar rumput. Konsumen Indonesia kini perlahan mulai berpaling dari kiblat Barat menuju merek-merek Asia yang dinilai lebih relevan secara kultural dan harga.
Huda menyebut, dominasi merek dari Cina, Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura kini semakin terasa di pasar domestik. Produk-produk dari kawasan ini dianggap lebih cekatan dalam mengikuti tren yang sedang meledak.
“Cina merupakan mitra dagang utama Indonesia, disusul Jepang, dan kini teknologi dari Singapura serta Korea Selatan juga semakin kuat. Artinya, masyarakat semakin mengenal brand-brand dari kawasan tersebut,” kata Huda.
Kesamaan karakteristik pasar memudahkan merek-merek Asia ini untuk memodifikasi produk mereka sesuai kebutuhan lokal. Dengan pasar yang semakin terbuka pada tren regional, strategi diversifikasi Erajaya Group diprediksi akan terus menguat.
