Jakarta, FORTUNE - Pertumbuhan ekonomi digital mendorong munculnya profesi baru yang kini memiliki nilai ekonomi signifikan: kreator konten. Di Indonesia, perkembangan platform video pendek turut memperluas ruang bagi individu untuk membangun audiens sekaligus menciptakan peluang pendapatan dari konten digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, kreator Indonesia semakin aktif memproduksi konten dengan beragam tema, mulai dari hiburan, edukasi, kecantikan, hingga kuliner. Perpaduan antara unsur budaya lokal, kreativitas dalam bercerita, serta kemampuan mengikuti tren global membuat konten dari Indonesia semakin terlihat di pasar internasional.
Kemampuan konten lokal menjangkau audiens global kembali terlihat melalui daftar TikTok Discover List 2026, yang menyoroti 50 kreator dunia dengan karya autentik dalam lima kategori: Educators, Icons, Innovators, Foodies, dan Originators. Setelah terakhir memiliki perwakilan pada 2022, tahun ini tiga kreator Indonesia masuk dalam daftar tersebut, yakni Andrea Novita pada kategori Educators, Gina Eros pada kategori Originators, dan Irene Suwandi pada kategori Icons.
Communications Lead TikTok Indonesia, Edwin Marcel Lengkei, menilai kreator lokal memiliki peluang besar untuk berkembang di tingkat global, bahkan melalui ide yang sederhana.
“Ada salah satu tren yang ternyata meledak enggak cuma di Indonesia, tapi juga di tingkat global. Jadi kita bisa lihat ya bagaimana konten simpel dari kreator Indonesia juga bisa punya pengaruh di tingkat global," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (9/3).
Fenomena ini juga terkait dengan perkembangan ekonomi kreator yang semakin besar di Indonesia. Sejumlah proyeksi menunjukkan kontribusi ekonomi kreator nasional dapat mencapai US$376 miliar atau sekitar Rp6,28 kuadriliun pada 2030, meningkat sekitar 1,5 kali dari nilai saat ini yang diperkirakan mencapai US$247 miliar. Dengan nilai tersebut, Indonesia diperkirakan menjadi salah satu pasar dengan dampak komersial terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya konsumsi konten video pendek, kerja sama antara kreator dan merek, serta berkembangnya ekosistem monetisasi berbasis konten digital.
Menurut Edwin, salah satu faktor yang memungkinkan kreator berkembang adalah sistem distribusi konten yang terbuka. TikTok memungkinkan sebuah video ditemukan audiens luas tanpa harus memiliki jumlah pengikut besar sejak awal.
Ia juga mengatakan platform tersebut berupaya membuka peluang bagi kreator agar dapat memperluas jangkauan audiens mereka.
“Kami selalu berinvestasi menghadirkan fitur, program, dan kesempatan seluas-luasnya bagi para kreator untuk membuka peluang baru bagi mereka sendiri. Termasuk lewat program seperti Discover List ini, kemarin Andrea, Irene, dan Gina juga sempat tampil di media internasional seperti Variety. Jadi ini menjadi salah satu cara kami untuk membantu para kreator agar dikenal tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia,” ujarnya.
Dalam ekosistem ekonomi kreator, autentisitas menjadi faktor penting yang memengaruhi perilaku konsumen. General Manager Global Business Solutions TikTok Indonesia, Kelly Umberfield, mengatakan kreator kini berperan sebagai penghubung antara audiens dan aktivitas ekonomi digital.
Studi The Art & Science of Authenticity yang disusun bersama Accenture Song menunjukkan bahwa 81 persen konsumen Indonesia mengaku terdorong membeli produk karena konten yang terasa autentik.
Riset tersebut juga mencatat 55 persen konsumen menilai konten sederhana tanpa banyak penyuntingan lebih terasa nyata, sementara 70 persen menganggap siaran langsung (live streaming) sebagai format paling autentik. Secara keseluruhan, 87 persen responden menyatakan konten autentik mendorong mereka mencari informasi produk hingga melakukan transaksi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kreator konten tidak lagi hanya berperan sebagai penghibur di ruang digital. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi digital yang menghubungkan audiens, platform, dan aktivitas bisnis.
