Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Imbas B50 dan El Nino, Target Ekspor CPO Turun Drastis pada 2027

3 min read
Imbas B50 dan El Nino, Target Ekspor CPO Turun Drastis pada 2027
Konfrensi Pers Paparan Kinerja Industri Sawit, oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)
  • Ekspor CPO pada 2027 diperkirakan turun karena El Nino berpotensi menekan produksi kelapa sawit.

  • Penerapan biodiesel B50 meningkatkan konsumsi domestik dan dapat mengurangi volume ekspor CPO.

  • Program PSR mulai membaik, tetapi realisasinya masih jauh dari target dan terkendala administrasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) diperkirakan terkontraksi turun pada 2027 akibat dampak fenomena EL Nino dan penyerapan biodiesel yang kian meningkat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Hadi Sugeng Wahyudiono, mengatakan BMKG telah mengingatkan fenomena el nino ekstrem pada tahun ini melanda Indonesia, sehingga berpotensi secara drastis menghambat produktivitas tanaman kelapa sawit dan menghasilkan minyak.

"Khusus 2027, dampak Elnino akan menurunkan produksi kita. Rencananya secara potensi (produksi) sebenarnya 60 juta ton, ya. Tapi kami hitung dampaknya imungkin nanti bisa 56,6 juta ton di tahun 2027," kata dia dalam konfrensi pers paparan kinerja industri sawit, Jumat (9/10).

Selain penurunan produksi, penerapan biodiesel (B50) juga meningkatkan kebutuhkan minyak sawit. Gapki memperkirakan kebutuhan minyak sawit untuk memenuhi program tersebut mencapai 17,4 juta ton, sehingga total konsumsi domestik diproyeksikan mencapai 30 juta ton.

"Dengan B50 full selama setahun itu akan memakan sekitar 17,4 juta atau konsumsi 30 juta. Sehingga volume ekspor kita itu hanya tinggal 26,5 juta ton," ujar dia.

Ekspor CPO pada 2026 diperkirakan sebesar 31,1 juta ton. Ini artinya terdapat penurunan sekitar 14,8 persen antara target 2026 dan target 2027.

Dengan penurunan volume ekspor tersebut, kata Hadi, neraca perdagangan nasional berpotensi defisit. Pasalnya, komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang utama surplus perdagangan nasional.

Dikutip dari rilis Kementerian Keuangan, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026. Kinerja ekspor CPO dan turunannya pada periode tersebut mencapai US$17,75 miliar. Sementara besi dan baja sebesar US$19,18 miliar, dan batu bara US$16,58 miliar

"Kalau kelapa sawitnya nanti itu goncang, pasti bisa terjadi minus itu, ya. Tadi kan kita lihat sampai Agustus tadi, kalau nggak ada sawit kan minus, ya," jelas dia.

Meski begitu, perkiraan penurunan ekspor tersebut masih tergolong optimistis. Sejumlah ahli memperkirakan penurunan produksi dapat mencapai 10 persen hingga 15 persen dari potensi produksi normal sebesar 60 juta ton, yang artinya potensi defisit semakin lebar.

  1. Peremajaan Sawit Rakyat Masih Terkendala

    Di sisi lain, Gapki menilai pelaksanaan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) mulai menunjukkan perbaikan. Namun, realisasi program yang telah berjalan sejak 2016 itu masih jauh dari target yang diharapkan.

    Realisasi PSR selama sekitar satu dekade baru mencapai 428.000 hektare, sedangkan target rata-rata yang ditetapkan mencapai 150.000 hektare per tahun.

    "Jadi memang pencapaian PSR itu masih rendah, cuma antara tahun lalu dan tahun ini, kelihatan tahun ini sudah lebih bagus," kata dia.

    Salah satu kendala utama program tersebut adalah persyaratan administrasi yang sulit dipenuhi pekebun. Persoalan juga muncul pada lahan yang berada di kawasan hutan, sehingga tidak dapat mengikuti program peremajaan.

    Secara bertahap persyaratan administrasi disebut mulai disederhanakan, namun petani kebun masih menghadapi kendala dalam melengkapi dokumen.

    Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gapki mendorong pola kemitraan antara perusahaan sawit dan pekebun. Melalui skema ini, perusahaan diharapkan dapat membantu pekebun memenuhi persyaratan administrasi sekaligus mempercepat pelaksanaan peremajaan tanaman.

Share Article
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More