Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Imbas B50 dan El Nino, Target Ekspor CPO Turun Drastis pada 2027
Konfrensi Pers Paparan Kinerja Industri Sawit, oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)
  • Ekspor CPO pada 2027 diperkirakan turun karena El Nino berpotensi menekan produksi kelapa sawit.

  • Penerapan biodiesel B50 meningkatkan konsumsi domestik dan dapat mengurangi volume ekspor CPO.

  • Program PSR mulai membaik, tetapi realisasinya masih jauh dari target dan terkendala administrasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sejak 2016

Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) telah berjalan sejak 2016.

Januari–Agustus 2026

Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$7,25 miliar. Kinerja ekspor CPO dan turunannya mencapai US$17,75 miliar.

2027

Ekspor CPO diperkirakan turun akibat dampak El Nino dan penyerapan biodiesel yang semakin tinggi. Produksi diperkirakan dapat mencapai 56,6 juta ton.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Ekspor minyak kelapa sawit atau CPO diperkirakan turun pada 2027, sementara konsumsi domestik meningkat karena penerapan biodiesel B50.
  • Who?
    Hadi Sugeng Wahyudiono dari Gapki menyampaikan perkiraan tersebut dengan merujuk informasi BMKG mengenai fenomena El Nino.
  • Where?
    Indonesia, sebagai wilayah yang terdampak fenomena El Nino dan tempat pelaksanaan program biodiesel B50 serta PSR.
  • When?
    Pada 2027, dengan catatan neraca perdagangan yang disebut sepanjang Januari–Agustus 2026.
  • Why?
    El Nino berpotensi menurunkan produktivitas sawit, sedangkan biodiesel B50 meningkatkan penyerapan minyak sawit di dalam negeri.
  • How?
    Produksi diperkirakan turun dari potensi 60 juta ton menjadi 56,6 juta ton, sementara volume ekspor disebut dapat tersisa 26,5 juta ton.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ekspor minyak sawit Indonesia diperkirakan turun pada 2027. El Nino bisa membuat tanaman sawit menghasilkan lebih sedikit minyak. Program biodiesel B50 juga memakai banyak minyak sawit di dalam negeri. Hadi dari Gapki menjelaskan hal ini. Program peremajaan sawit mulai membaik, tetapi petani masih kesulitan mengurus dokumen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkiraan penurunan ekspor masih disebut optimistis, sementara pelaksanaan program Peremajaan Sawit Rakyat mulai menunjukkan perbaikan. Penyederhanaan persyaratan administrasi dan dorongan pola kemitraan antara perusahaan sawit dan pekebun juga menjadi langkah yang dapat membantu mempercepat peremajaan tanaman, meski realisasinya masih menghadapi kendala.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) diperkirakan terkontraksi turun pada 2027 akibat dampak fenomena EL Nino dan penyerapan biodiesel yang kian meningkat.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Hadi Sugeng Wahyudiono, mengatakan BMKG telah mengingatkan fenomena el nino ekstrem pada tahun ini melanda Indonesia, sehingga berpotensi secara drastis menghambat produktivitas tanaman kelapa sawit dan menghasilkan minyak.

"Khusus 2027, dampak Elnino akan menurunkan produksi kita. Rencananya secara potensi (produksi) sebenarnya 60 juta ton, ya. Tapi kami hitung dampaknya imungkin nanti bisa 56,6 juta ton di tahun 2027," kata dia dalam konfrensi pers paparan kinerja industri sawit, Jumat (9/10).

Selain penurunan produksi, penerapan biodiesel (B50) juga meningkatkan kebutuhkan minyak sawit. Gapki memperkirakan kebutuhan minyak sawit untuk memenuhi program tersebut mencapai 17,4 juta ton, sehingga total konsumsi domestik diproyeksikan mencapai 30 juta ton.

"Dengan B50 full selama setahun itu akan memakan sekitar 17,4 juta atau konsumsi 30 juta. Sehingga volume ekspor kita itu hanya tinggal 26,5 juta ton," ujar dia.

Ekspor CPO pada 2026 diperkirakan sebesar 31,1 juta ton. Ini artinya terdapat penurunan sekitar 14,8 persen antara target 2026 dan target 2027.

Dengan penurunan volume ekspor tersebut, kata Hadi, neraca perdagangan nasional berpotensi defisit. Pasalnya, komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang utama surplus perdagangan nasional.

Dikutip dari rilis Kementerian Keuangan, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026. Kinerja ekspor CPO dan turunannya pada periode tersebut mencapai US$17,75 miliar. Sementara besi dan baja sebesar US$19,18 miliar, dan batu bara US$16,58 miliar

"Kalau kelapa sawitnya nanti itu goncang, pasti bisa terjadi minus itu, ya. Tadi kan kita lihat sampai Agustus tadi, kalau nggak ada sawit kan minus, ya," jelas dia.

Meski begitu, perkiraan penurunan ekspor tersebut masih tergolong optimistis. Sejumlah ahli memperkirakan penurunan produksi dapat mencapai 10 persen hingga 15 persen dari potensi produksi normal sebesar 60 juta ton, yang artinya potensi defisit semakin lebar.

Peremajaan Sawit Rakyat Masih Terkendala

Di sisi lain, Gapki menilai pelaksanaan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) mulai menunjukkan perbaikan. Namun, realisasi program yang telah berjalan sejak 2016 itu masih jauh dari target yang diharapkan.

Realisasi PSR selama sekitar satu dekade baru mencapai 428.000 hektare, sedangkan target rata-rata yang ditetapkan mencapai 150.000 hektare per tahun.

"Jadi memang pencapaian PSR itu masih rendah, cuma antara tahun lalu dan tahun ini, kelihatan tahun ini sudah lebih bagus," kata dia.

Salah satu kendala utama program tersebut adalah persyaratan administrasi yang sulit dipenuhi pekebun. Persoalan juga muncul pada lahan yang berada di kawasan hutan, sehingga tidak dapat mengikuti program peremajaan.

Secara bertahap persyaratan administrasi disebut mulai disederhanakan, namun petani kebun masih menghadapi kendala dalam melengkapi dokumen.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gapki mendorong pola kemitraan antara perusahaan sawit dan pekebun. Melalui skema ini, perusahaan diharapkan dapat membantu pekebun memenuhi persyaratan administrasi sekaligus mempercepat pelaksanaan peremajaan tanaman.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article