Jakarta, FORTUNE - Ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) diperkirakan terkontraksi turun pada 2027 akibat dampak fenomena EL Nino dan penyerapan biodiesel yang kian meningkat.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Hadi Sugeng Wahyudiono, mengatakan BMKG telah mengingatkan fenomena el nino ekstrem pada tahun ini melanda Indonesia, sehingga berpotensi secara drastis menghambat produktivitas tanaman kelapa sawit dan menghasilkan minyak.
"Khusus 2027, dampak Elnino akan menurunkan produksi kita. Rencananya secara potensi (produksi) sebenarnya 60 juta ton, ya. Tapi kami hitung dampaknya imungkin nanti bisa 56,6 juta ton di tahun 2027," kata dia dalam konfrensi pers paparan kinerja industri sawit, Jumat (9/10).
Selain penurunan produksi, penerapan biodiesel (B50) juga meningkatkan kebutuhkan minyak sawit. Gapki memperkirakan kebutuhan minyak sawit untuk memenuhi program tersebut mencapai 17,4 juta ton, sehingga total konsumsi domestik diproyeksikan mencapai 30 juta ton.
"Dengan B50 full selama setahun itu akan memakan sekitar 17,4 juta atau konsumsi 30 juta. Sehingga volume ekspor kita itu hanya tinggal 26,5 juta ton," ujar dia.
Ekspor CPO pada 2026 diperkirakan sebesar 31,1 juta ton. Ini artinya terdapat penurunan sekitar 14,8 persen antara target 2026 dan target 2027.
Dengan penurunan volume ekspor tersebut, kata Hadi, neraca perdagangan nasional berpotensi defisit. Pasalnya, komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang utama surplus perdagangan nasional.
Dikutip dari rilis Kementerian Keuangan, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif US$7,25 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026. Kinerja ekspor CPO dan turunannya pada periode tersebut mencapai US$17,75 miliar. Sementara besi dan baja sebesar US$19,18 miliar, dan batu bara US$16,58 miliar
"Kalau kelapa sawitnya nanti itu goncang, pasti bisa terjadi minus itu, ya. Tadi kan kita lihat sampai Agustus tadi, kalau nggak ada sawit kan minus, ya," jelas dia.
Meski begitu, perkiraan penurunan ekspor tersebut masih tergolong optimistis. Sejumlah ahli memperkirakan penurunan produksi dapat mencapai 10 persen hingga 15 persen dari potensi produksi normal sebesar 60 juta ton, yang artinya potensi defisit semakin lebar.
