Jakarta, FORTUNE — Raksasa minyak asal Amerika Serikat, Exxon Mobil, memproyeksikan penurunan harga minyak mentah berpeluang memangkas laba segmen hulu (upstream) pada kuartal keempat sekitar US$800 juta hingga US$1,2 miliar dibandingkan kuartal ketiga.
Dilansir dari Reuters, harga minyak telah turun sekitar 9,2 persen sepanjang kuartal IV 2025 seiring kekhawatiran akan kelebihan pasokan dan isu tarif, melebihi sentimen risiko geopolitik.
Sepanjang 2025, harga minyak Brent merosot sekitar 19 persen—sekaligus penurunan tahunan terdalam sejak 2020—serta mencatatkan tahun ketiga berturut-turut mengalami penurunan, rekor terpanjang sepanjang sejarah. Sementara itu, minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), mencatat penurunan tahunan hampir 20 persen.
Sementara itu, dalam dokumen yang disampaikan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), perubahan harga gas diperkirakan dapat mengurangi laba upstream hingga US$300 juta, atau sebaliknya meningkatkan laba hingga US$100 juta dibandingkan kuartal sebelumnya.
Proyeksi kinerja Exxon ini menjadi sorotan pelaku pasar karena kerap dijadikan indikator awal untuk melihat arah kinerja sektor minyak dan gas secara keseluruhan menjelang rilis laporan keuangan kuartalan perusahaan-perusahaan energi lainnya.
Analis memperkirakan, Exxon akan membukukan laba disesuaikan sebesar US$1,66 per saham pada kuartal keempat, berdasarkan data LSEG.
Perusahaan juga mengungkapkan bahwa biaya restrukturisasi berpotensi menekan laba secara keseluruhan sekitar US$200 juta. Pada akhir tahun lalu, Exxon mengumumkan rencana korporasinya berfokus pada efisiensi biaya dan peningkatan profitabilitas, bahkan di tengah volatilitas harga minyak.
Exxon mencatat laba segmen hulu sebesar US$5,7 miliar pada kuartal ketiga, dengan total laba perusahaan mencapai US$7,5 miliar pada periode tersebut.
