Jakarta, FORTUNE – PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) siap menggelar aksi korporasi penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue. Langkah ini ditempuh menyusul masuknya investor asal Denmark, Denico Food Ingredients, ke entitas anak usahanya, PT Sinar Aroma Sentosa.
Rencana penambahan modal tersebut dirancang demi memperkuat struktur ekuitas induk usaha, membiayai belanja modal skala besar, serta mendukung ekspansi kapasitas manufaktur. Detail transaksi dan rencana restrukturisasi ekuitas akan dibeberkan manajemen SMLE dalam Public Expose Insidentil pada 13 Oktober 2026.
Masuknya Denico Food Ingredients sebagai investor independen non-afiliasi diproyeksikan menyuntikkan modal segar sekaligus membawa transfer teknologi formulasi Eropa. Aksi tersebut turut mendorong restrukturisasi permodalan di tingkat induk usaha.
“SMLE membutuhkan dana segar untuk memperkuat rantai pasok global di tengah lonjakan permintaan bahan baku kimia khusus (specialty chemicals),” demikian manajemen SMLE dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (7/10).
Berdasarkan Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia, Denico Food Ingredients mengalihkan kepemilikan pada PT Sinar Aroma Sentosa, anak usaha yang sebelumnya dikuasai 100 persen oleh SMLE. Entitas ini merupakan lengan manufaktur utama perseroan yang berfokus pada peracikan perisa, bumbu, serta ekstraksi bahan baku wewangian dan makanan.
Rekam jejak bisnis riset dan pengembangan internal SMLE telah melalui berbagai kontrak pasokan bahan baku bernilai miliaran rupiah. Salah satunya adalah kontrak pasokan bahan baku senilai Rp3,48 miliar kepada produsen makanan kemasan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
Aksi korporasi ini berlangsung di tengah penataan struktur kepemilikan saham perseroan di pasar sekunder yang kian likuid. Divestasi terukur oleh pemegang saham pengendali lama, PT Sinergi Asia Corporindo, meningkatkan porsi saham beredar publik (free float) non-warkat hingga 34,57 persen atau setara 802,98 juta lembar saham.
Rangkaian aksi mulai dari masuknya investor Denmark, penataan likuiditas pasar, hingga rencana rights issue menandai fase menentukan transformasi bisnis SMLE. Dari sisi operasional dan keuangan, hingga kuartal I-2026 perseroan membukukan pendapatan Rp44,0 miliar dengan perolehan laba kotor Rp9,8 miliar.
