Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Goldsboro Books Incar Pasar Indonesia, Siapkan Ekspansi Toko Fisik pada 2027

3 min read
Goldsboro Books Incar Pasar Indonesia, Siapkan Ekspansi Toko Fisik pada 2027
Diskusi Goldsboro Books bersama Big Bad Wolf (BBW) Books Indonesia/Dok BBW
  • Goldsboro Books asal Inggris menargetkan pembukaan toko fisik di Indonesia pada 2027, dengan Jakarta sebagai lokasi potensial ekspansi ritel berikutnya.
  • Sebagai tahap awal, Goldsboro berkolaborasi dengan Big Bad Wolf Books Indonesia dan hadir di Bazar Buku Internasional di ICE BSD City pada 28 Oktober–1 November 2026.
  • Perusahaan fokus pada buku edisi pertama bertanda tangan, edisi eksklusif, dan koleksi bernilai investasi, melihat peningkatan pembelian langsung dari konsumen Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Toko buku independen asal Inggris, Goldsboro Books, siap mengekspansi jaringan bisnisnya ke Indonesia dengan menargetkan pembukaan toko fisik pada 2027. Strategi tersebut diambil demi menggarap potensi pasar buku koleksi dan edisi terbatas yang terus berkembang di Tanah Air, sebagaimana disampaikan Co-Founder & Managing Director Goldsboro Books, David Headley, dalam acara diskusi di Jakarta, Kamis (8/10).

Sebagai langkah awal penetrasi pasar, peritel buku yang berdiri sejak 1999 di London ini menggandeng Big Bad Wolf Books Indonesia. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kehadiran Goldsboro Books dalam Bazar Buku Internasional Big Bad Wolf di Hall 2-3A ICE BSD City pada 28 Oktober hingga 1 November 2026.

David menilai Indonesia memiliki prospek bisnis menjanjikan. Hal ini didorong oleh peningkatan transaksi secara langsung dari konsumen lokal.

“Indonesia adalah pasar yang sedang berkembang bagi bisnis kami. Saya melihat semakin banyak orang dari Indonesia yang membeli buku dari Goldsboro. Saya ingin membuat buku lebih mudah diakses contohnya yang kami produksi dari Inggris,” kata David pada acara diskusi di Jakarta, Kamis (8/10).

Di tengah tantangan digitalisasi industri literasi, Goldsboro Books memfokuskan strategi bisnisnya pada segmen pasar khusus (niche market). Perusahaan mengandalkan penjualan buku edisi pertama bertanda tangan penulis, edisi eksklusif, serta buku koleksi yang memiliki nilai investasi.

“Saat ini situasinya memang sulit. Membuka toko buku bukan sekadar menaruh buku di rak, tetapi menjadi seorang kurator, menjadi penasihat bagi seseorang yang ingin membaca buku. Jadi, jika Anda ingin membuka bisnis apa pun, Anda harus memulainya dengan passion dan sudut pandang penjualan yang unik. Goldsboro adalah niche market hanya menjual edisi pertama yang ditandatangani atau edisi pertama saja,” kata David.

Dia mencontohkan potensi nilai ekonomi dari buku koleksi melalui sekuel Harry Potter edisi pertama bertanda tangan JK Rowling. Buku yang dibelinya seharga £12,99 atau sekitar Rp250.000 pada 1998 tersebut kini nilainya membubung hingga US$12.000 atau sekitar Rp200 juta.

Saat ini Goldsboro Books memiliki tiga toko di dunia, yaitu di London, Brighton, dan Selangor Malaysia yang baru beroperasi pada Agustus 2026. Manajemen membidik Jakarta sebagai lokasi potensial ekspansi ritel berikutnya.

“Kami percaya bahwa buku dapat menjadi sesuatu yang sangat personal dan layak untuk disimpan serta dihargai. Melalui kolaborasi dengan Big Bad Wolf, kami ingin memperkenalkan koleksi Goldsboro kepada pembaca Indonesia dan mengajak mereka menemukan kegembiraan dalam mengoleksi buku,” kata David.

Country Director Big Bad Wolf Books Indonesia, Marthius Wandi Budianto, menyambut positif kolaborasi ini. Ia menilai edisi pertama, tanda tangan penulis, serta detail produksi yang khas memberikan nilai personal dan daya tarik tersendiri bagi penikmat literasi di Indonesia.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More