Jakarta,FORTUNE – Di tengah ketatnya persaingan industri, kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama dalam keberlangsungan bisnis.
Untuk itulah, perusahaan besar seperti Erajaya Group dan AstraPay menunjukkan konsistensi dalam membaca perubahan perilaku konsumen serta dinamika pasar yang terus bergerak cepat.
Melalui strategi yang terukur, keduanya berupaya tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap relevan di mata pelanggan.
Hal itu terungkap dalam sesi diskusi berjudul "What Customers Really, Really Want" di acara Fortune Indonesia Summit (FIS) 2026 yang digelar di The Westin, Jakarta, Kamis (12/2).
Hasan Aula, Deputy CEO Erajaya Group, mengatakan sepanjang 30 tahun perjalanan bisnis Erajaya, pihaknya terus berupaya melakukan transformasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Sejak awal mula berdiri pada 1996 hingga 2011, perusahaan itu hanya berfokus pada ritel via penjualan ponsel. Namun, kala pandemi Covid-19 datang pada 2020 pihaknya mulai mendiversifikasikan bisnis ke segmen gaya hidup.
“Kita memang best selling ritel di ponsel, bisa dibilang 80 persen dari penjualan kita di ponsel. Tapi sejak COVID-19, kita membangun transformasi untuk masuk ke industri lifestyle. Karena kita melihat bahwa industri lifestyle adalah industri yang akan terus berkembang ke depan,” kata Hasan.
Sejumlah jenama seperti DJI, Wilson, Asics hingga mobil listrik Xpeng juga diboyong ke Indonesia untuk memperkuat jaringan ritel.
Tak berhenti di situ, perusahaan ini juga terus melebarkan ekspansi bisnis ke industri makanan minuman dengan menghadirkan merk CHAGEE dan Paris Baguette di Indonesia.
Ekspansi jaringan ritel Erajaya Group juga terus berlanjut, hingga dapat menghadapi berbagai tantangan hingga kabar pelemahan daya beli masyarakat di 2025.
“Karena kalau gadget itu sudah merupakan way of life. Kita tidak mungkin ketinggalan (update) gadget terbaru. Karena dari situ semua kegiatan bisa dilakukan. Karena itu loyalitas (pelanggan),” ujarnya.
Erajaya Group memiliki total jaringan gerai mencapai 2.229 per Oktober 2025. Dengan berbagai gurita bisnis tersebut, Erajaya Group mencatatkan pertumbuhan same store sales growth (SSSG) atau penjualan dari toko sebesar 30,5 persen pada Oktober 2025.
Sementara itu, cerita lain juga diungkapkan oleh Chief Marketing Officer AstraPay, Reny Futsy Yama. Ia mengungkapkan niat awal pembentukan AstraPay oleh induk Group Astra adalah untuk memenuhi kebutuhan transaksi pelanggan.
“Produk inti Astra memiliki siklus pembelian yang panjang. Kami ingin menghadirkan solusi yang bisa digunakan setiap hari, mulai dari bayar listrik, pulsa, QRIS, hingga transportasi publik,” kata Reny.
Tak hanya untuk alat pembayaran, fitur-fitur terbaru juga terus dihadirkan, seperti histori transaksi terklasifikasi dan pengingat pembayaran untuk memudahkan pengguna dapat memantau pola pengeluaran dan menghindari keterlambatan tagihan.
Dengan melayani lebih dari 17 juta pengguna dan jutaan transaksi per bulan, AstraPay memanfaatkan big data untuk memperkuat retensi dan meningkatkan customer lifetime value. Apalagi, saat ini transaksi QRIS semakin meningkat setiap tahunnya.
Untuk terus menjangkau pelanggan, AstraPay juga memperluas jaringan ekosistemnya, yang kini mencakup lebih dari 29.000 merchant QRIS dan didukung oleh 133 mitra pembayaran serta mobilitas digital.
Selain melayani ekosistem internal, AstraPay juga aktif menggaet UMKM dan pengguna eksternal melalui layanan seperti pembayaran QRIS, transportasi publik, hingga transaksi harian.
