Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kadin Harap Tarif AS atas Produk RI Bisa Ditekan ke 15%
Logo Kadin Indonesia. (Dok/Istimewa).

  • Kadin berharap tarif impor AS atas produk RI bisa turun hingga 15% menjelang penandatanganan kesepakatan dagang ART pada 19 Februari 2026.

  • Indonesia dan AS akan menandatangani kesepakatan ART setelah negosiasi tarif dinyatakan rampung dan kedua negara menyelesaikan proses harmonisasi bahasa hukum.

  • Presiden Prabowo Subianto menghadiri US-Indonesia Business Summit 2026 di Washington D.C. untuk menyelesaikan dan penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) berharap tarif yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap produk Indonesia dapat ditekan hingga 15 persen menjelang penandatanganan kesepakatan dagang atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026.

“Tarif 19 persen atau berapa pun yang disepakati, kami berharap bisa turun menjadi 15 persen. Hal itu akan memberikan dampak positif bagi Indonesia dalam peningkatan ekspor,” ujar Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pengembangan Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Juan Permata Adoe, pada Fortune Indonesia, Kamis (19/2).

Indonesia dan Amerika Serikat dijadwalkan menandatangani kesepakatan ART setelah negosiasi tarif dinyatakan rampung dan kedua negara menyelesaikan proses harmonisasi bahasa hukum (legal drafting). Dalam kerangka kesepakatan tersebut, Indonesia membebaskan tarif bea masuk bagi sebagian besar produk asal Amerika Serikat.

Sementara itu, Amerika Serikat menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen, serta memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao.

Kadin menyatakan Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat dalam negosiasi tarif ini karena adanya imbal balik impor dari Amerika Serikat untuk beberapa komoditas primer dan pangan yang dinilai penting bagi Indonesia.

Sebagaimana diketahui, kunjungan Presiden Prabowo ke Amerika Serikat (AS) hari ini adalah dalam rangka The Inaugural Meeting of Board of Peace (BOP) dan sekaligus penyelesaian dan penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Presiden Prabowo Subianto juga turut menghadiri US-Indonesia Business Summit 2026 (Forum Bisnis RI-AS 2026), sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kerja ke Amerika Serikat, yang diselenggarakan oleh the U.S. Chamber of Commerce (USCC), the US-ASEAN Business Council (USABC), dan the U.S.-Indonesia Society (USINDO) di Washington D.C., Rabu (18/02).

Pertemuan ini diselenggarakan untuk menunjukkan dukungan kuat sektor swasta AS terhadap Pemerintah Indonesia.

Pada pertemuan tersebut, Presiden Prabowo turut didampingi oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rosan Roeslani, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Sekretaris Kabinet RI Teddy Indra Wijaya dan Duta Besar RI Washington DC.

Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga menyampaikan bahwa Amerika Serikat merupakan mitra strategis utama Indonesia dalam perdagangan dan investasi. Forum ini menjadi momentum penting untuk memperdalam kolaborasi sektor swasta kedua negara, khususnya pada bidang inovasi digital, kecerdasan artifisial (AI), semikonduktor, mineral kritis, ketahanan rantai pasok, dan transisi energi.

Menko Airlangga menegaskan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat telah menuntaskan perundingan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dan saat ini tengah mempersiapkan untuk penandatanganan dan persiapan tahap implementasi. Kesepakatan tersebut mencerminkan komitmen kedua negara untuk memperkuat akses pasar, menyederhanakan hambatan perdagangan, meningkatkan kepastian usaha, serta membuka peluang investasi yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Penyelesaian ART merupakan tonggak penting yang dicapai melalui perundingan intensif dan konstruktif antara kedua negara. Kesepakatan ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menciptakan lingkungan usaha yang semakin terbuka, transparan, dan ramah investasi,” ujar Menko Airlangga dalam keterangan resminya, Kamis (19/2).

Editorial Team