Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kawasan Blok M Belum Selesai Bertransformasi, Ini Rencana Ekspansi ke Depan
Kepala Divisi Property Management PT MRT Jakarta (Perseroda), M. Iqbal Bimo Arifianto. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)
  • Pakuwon Jati menghubungkan Blok M Plaza dengan Stasiun MRT Blok M meski sempat menurunkan pengunjung hampir 50 persen saat konstruksi; okupansi kini mencapai 99 persen pada kuartal III 2025.
  • MRT Jakarta merevitalisasi Blok M Hub sejak 2025 melalui kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, dan pemerintah; kawasan ini mencatat rata-rata 25.000 pengunjung harian serta menampung 242 tenant UMKM lokal pada 2026.
  • MRT Jakarta menjajaki investor Asia Tenggara dan Hong Kong untuk Ultimate Development Blok M, yang akan mengintegrasikan transportasi, hotel, hunian vertikal, komersial, serta modernisasi Terminal Blok M.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Alexander Stefanus Ridwan, Presiden Direktur PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) percaya bahwa setiap masalah selalu disertai jalan keluar. Tak terkecuali dalam aspek berbisnis.

Namun, jalan keluar itu tidak selalu bisa dilihat oleh semua pihak. Salah satu contohnya adalah ketika pandemi terjadi sekitar 6 tahun lalu. Kebijakan pembatasan pergerakan masyarakat saat itu telak menghantam bisnis ritel dan pusat perbelanjaan.

Di situasi itu, Ridwan justru melihat secercah harapan. Sebuah peluang. "Kalau kita, coba berpikir cara lain lah. Waktu kemarin PPKM [saat Covid-19], bisnis semua orang turun. Kesempatan kita untuk beli, kan?" Katanya di siniar (podcast) Asosiasi Emiten Indonesia, dikutip Selasa (29/9).

Contoh lainnya berkaitan dengan keputusannya untuk menghubungkan salah satu mal milik Grup Pakuwon di Jakarta dengan Stasiun MRT Blok M: Blok M Plaza. Bisa dibilang, itu bukan langkah populis, mengingat di sepanjang jalur Fase 1 MRT Jakarta, hanya Blok M Plaza yang langsung tersambung dengan stasiun MRT.

Ridwan bercerita, pada saat pembangunan jalur MRT Jakarta pertama itu, semua pengembang menolak menghubungkan propertinya. "Yang mau cuma siapa? Blok M Plaza saja. Kita yang dukung dia, segala macam," ujarnya.

Langkah itu turut disertai risiko. Selama pembangunannya, perwakilan mal pernah mengungkap bahwa jumlah pengunjung berkurang hampir 50 persen pada 2015 dibandingkan pada 2014.

Namun, waktu itu, perseroan yakin bahwa penurunan itu hanya akan bersifat sementara. Grup Pakuwon percaya, di masa depan, konektivitas antara Blok M Plaza dan Stasiun MRT Blok M melalui elevated bridge akan membuat mal itu kembali berjaya.

"Susah 2 tahun gara-gara pembangunan [proyek MRT]. Tapi, ujung-ujungnya kan bagus juga. Cuma kita yang menghubungkan," kata Ridwan. "Blok M Plaza, yang tadi dikatakan zaman keemasan, sekarang sudah balik lagi [berjaya]."

Berdasarkan keterangan resmi PWON, kinerja Plaza Blok M terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Tingkat okupansi yang mencapai 88 persen pada 2021, naik menjadi 92 persen pada 2022 dan stabil pada 2023. Kemudian, angkanya meningkat lagi ke 95 persen pada 2024. Bahkan menyentuh level 99 persen pada kuartal-III 2025.

"Dari yang tadinya abandoned, tenancy-nya susah sekali untuk diangkat karena mal lama, sudah lebih dari 30 tahun. Sekarang tingkat okupansinya naik menjadi 99,9 persen. Mereka sudah kehabisan ruang sekarang. Akhirnya rate mereka untuk sewa naik," kata Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), Ferdiansyah Roestam, Agustus 2026.

Hal tersebut sebelumnya diamini oleh Direktur PWON, Minarto Basuki. Menurutnya, peningkatan trafik ke Blok M Plaza turut berkontribusi terhadp pertumbuhan kinerja operasional mal, baik dari tingkat kunjungan maupun penjualan tenant. Menurutnya, faktor peningkatan aksesibilitas melalui kawasan TOD di sekitarnya menjadi salah satu pendorong penting yang memperkuat daya tarik Blok M Plaza.

"Dengan kombinasi lokasi yang semakin strategis dan kurasi tenant yang tepat, kami optimistis daya saing Blok M Plaza akan terus meningkat," ujar Minarto kepada Fortune Indonesia pada akhir Juli 2026.

Kepercayaan yang diberikan oleh Grup Pakuwon menjadi salah satu preseden penting bagai PT MRT Jakarta (Perseroda) saat ini. Apalagi, sejak perusahaan dipercaya merevitalisasi titik lain di kawasan itu, yakni Blok M Hub, pada 2025.

Kepala Divisi Property Management MRT Jakarta, M. Iqbal Bimo Arifianto, mengakui bahwa proses revitalisasi kawasan itu tergolong menantang. Selama proses revitalisasi itu, MRT Jakarta dihadapkan dengan berbagai isu, seperti kebersihan dan kerapihan, isu PKL, hingga isu parkir liar.

Namun, lewat bekerja sama dengan berbagai pihak (termasuk masyarakat, komunitas, dan pemerintah setempat), perusahaan secara bertahap mengurai tantangan tersebut.

"Kami bahkan akan memiliki buku panduan untuk internal, bagaimana kita masuk ke [sebuah] kawasan, bagaimana kita berkoordinasi lintas fungsi bahkan sampai pemerintah, keamanan, untuk mendapatkan dukungan. Yang penting kita punya niat baik. Kita datang ke sini bukan untuk mengusir, tapi bagaimana bisa berkolaborasi terutama dengan kawasan sekitar," kata Bimo di sesi MRTJ Fellowship Program 2026 pada Kamis (24/9).

Selepas revitalisasi, kawasan Blok M Hub dan sekitarnya mencatatkan rata-rata jumlah pengunjung harian sebanyak 25.000 pada 2026. Kawasan itu juga menjadi rumah bagi 242 tenant UMKM lokal.

Sebagai bagian dari ekspansi lini bisnis manajemen properti, perusahaan itu bahkan membawa cerita kesuksesan pengembangan kawasan TOD Blok M itu ke panggung internasional. Pada pekan lalu, MRT Jakarta turut serta dalam TOD Investment Forum di Singapura pada 24-25 September 2026.

"[Kawasan TOD Blok M] menjadi benchmark-nya, ketika kita menyampaikan success story di mana-mana pasti [akan kami ceritakan]," ujar Bimo.

Salah satu objektif dari pelaksanaan forum di Singapura itu adalah memperluas basis investor kawasan TOD MRT Jakarta ke Asia Tenggara. Bahkan, perusahaan juga sedang menjajaki kerja sama dengan investor Hong Kong.

Nantinya, kemitraan strategis dengan para investor internasional itu akan mencakup dukungan terhadap pengembangan kawasan TOD dalam rencana MRT Jakarta. Salah satunya, Ultimate Development Blok M. Proyek pengembangan lanjutan kawasan Blok M itu bertujuan mengintegrasikan aspek transportasi dengan hotel, hunian vertikal, juga area komersial.

"Revitalisasi besar yang kelihatan, mungkin [nanti akan] aka tower. Itu kami akan melakukan pencarian mitra kerja sama, yaitu mungkin ada investor," kata Bimo.

Sebelumnya, TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, mengatakan, salah satu fokus dalam ekspansi selanjutnya di Blok M adalah revitalisasi area Terminal Blok M. Menurutnya, kawasan itu akan menjadi terminal modern. Rencana tersebut adalah bagian dari strategi perusahaan mengoptimalkan aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Akan ada pengembangan mixed-use berupa apartemen, hotel, dan fungsi-fungsi komersial lainnya," ujar Sagita.

Konsep itu telah diterapkan juga oleh MRT Jakarta di Transport Hub Dukuh Atas. Di sana terdapat hotel, bar, kampus, perkantoran, tenant F&B, pusat kebugaran, hingga halte bus terintegrasi dan titik shuttle antarkota. Rata-rata pengunjung hariannya mencapai 2.755 per September 2026, naik 22 persen dari kuartal-I 2026. Tingkat okupansi tenant makanan-minuman mencapai 100 persen, sedangkan tingkat okupansi gedung mencapai 88,8 persen.

Ekspansi lanjutan kawasan Blok M sendiri akan dimulai setelah beberapa proyek pengembangan kawasan TOD MRT Jakarta lainnya, yakni Pedestrian Deck Dukuh Atas, Extended Concourse Bundaran HI. Dalam rencana pengembangan perusahaan, ada pula proyek lain seperti Lebak Bulus Park & Ride and Mixed Use, Thamrin Asset Development, XGL Mixed-Use, hingga 4 proyek kawasan TOD di Kota Tua.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article