Karena itu, Airlangga menekankan percepatan pengembangan KEK diperlukan berbagai sektor, meliputi kesehatan, pariwisata hingga industri, digital, teknologi, dan ekonomi kreatif.
Di sektor kesehatan, pemerintah berupaya mengurangi aliran devisa ke luar negeri akibat masyarakat Indonesia yang memilih menjalani pengobatan di negara lain. Airlangga menyebut sekitar 2 juta warga Indonesia berobat ke luar negeri dengan total pengeluaran diperkirakan mencapai Rp200 triliun.
Pemerintah pun ingin mengembalikan potensi dana yang keluar tersebut dengan mengembangkan KEK kesehatan di Sanur dan Batam. Dukungan yang disiapkan mencakup relaksasi izin praktik bagi tenaga kesehatan warga negara Indonesia maupun asing, pengaturan layanan diagnostik dan penelitian stem cell, serta percepatan regulasi bersama Kementerian Kesehatan.
Pada sektor pariwisata, pengembangan KEK diarahkan untuk mendukung target kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026 sebanyak 16 juta hingga 17,6 juta wistawan mencanegara, dengan target devisa sekitar US$24 miliar. Airlangga menyebut nilai tersebut setara dengan devisa dari ekspor kelapa sawit.
Indonesia memiliki enam KEK pariwisata, termasuk Mandalika, Kura-Kura Bali, dan Tanjung Lesung. Pemerintah memperkirakan KEK Kura-Kura Bali dapat menarik 600.000 wisatawan pada 2027 dengan nilai ekonomi Rp600 miliar.
Sementara itu, Mandalika ditargetkan mendatangkan 1,6 juta wisatawan dengan nilai ekonomi Rp8,6 triliun, sedangkan Tanjung Lesung diproyeksikan menarik 1,5 juta wisatawan dengan nilai ekonomi Rp3 triliun. Di sisi lain KEK Lidu masih perlu untuk didorong agar mencapai target 220.000 wisatawan dengan nilai Rp352 miliar
Di sektor industri, KEK Galang Batang di Riau ditargetkan menarik Rp114 triliun dengan penyerapan 94.000 tenaga kerja. Sementara KEK Kendal Rp370 triliun dengan 250.000 tenaga kerja. Kemudian KEK Gersik menyerap Rp264 triliun dan 200.000 tenaga kerja.
Oleh karenannya, Airlangga menekankan percepatan perizinan serta perluasan kawasan. Dalam paparannya, Airlangga menyinggung proses pengalihan hak atas lahan dari PTPN kepada Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan KEK Batang.
Sementara itu, pengembangan KEK digital dan teknologi di Nongsa, Batam, didorong oleh tersambungnya kabel komunikasi bawah laut yang mendarat di Pulau Batam. Infrastruktur tersebut diharapkan memperkuat daya tarik kawasan untuk investasi pusat data (data center).
Selain itu, sektor ekonomi kreatif dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui KEK Singhasari dan Nongsa. Investasi di bidang film dan animasi menjadi salah satu fokus, dengan kegiatan produksi di Nongsa yang telah melibatkan lebih dari 1.000 animator.
"Dari ketenagakerjaan kami harapkan terus mendorong program yang khusus sehingga bisa mengisi pelatihan vokasi sesuai kebutuhan kawasan ekonomi khusus,"pungkas Airlangga.