Jakarta, FORTUNE - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali menargetkan pengembangan kerja sama Indonesia dan China di bidang teknologi dan industri.
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Ali Murtopo Simbolon mengatakan kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang strategis untuk mendorong pengembangan teknologi, mulai dari artificial intelligence (AI), riset dan pengembangan digital, semikonduktor, hingga teknologi kuantum.
Selain itu, KEK Kura-Kura Bali ditargetkan menjadi penghubung antara dunia akademik dan industri dalam pengembangan teknologi.
"Dalam situasi persaingan dan ketidakpastian global, Indonesia menawarkan ruang yang aman bagi pengembangan akademik dan kolaborasi industri. Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) dapat menjadi jembatan antara Tiongkok, kawasan Asia Tenggara, dan dunia," ujar Ali dalam keterangan resmi dikutip Selasa (6/10).
Minat investor Cina terhadap KEK di Indonesia juga cukup besar. Hingga triwulan II 2026, sebanyak 97 dari 481 badan usaha atau tenant di 25 KEK seluruh Indonesia merupakan perusahaan asal China. Porsi tersebut mencapai sekitar 20 persen dari total tenant.
Secara keseluruhan, 25 KEK di Indonesia memiliki luas sekitar 23.797,88 hektare dengan investasi kumulatif sekitar US$20,7 miliar. Kawasan tersebut telah melibatkan 481 badan usaha dan menciptakan lebih dari 283 ribu lapangan kerja.
Salah satu kerja sama dengan investor Cina yang terus diperkuat melalui Two Countries Twin Parks (TCTP). Skema tersebut menghubungkan potensi pasar, sumber daya, dan lokasi Indonesia dengan modal, teknologi, dan kapasitas industri Cina.
Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Budi Santoso Indonesia memiliki keunggulan yang tidak semata-mata bertumpu pada biaya produksi, tetapi pada kombinasi pasar domestik yang besar, sumber daya alam, dan basis industri.
"Karenanya, Indonesia perlu diposisikan bukan hanya sebagai lokasi produksi berbiaya kompetitif, tetapi sebagai platform manufaktur yang memberikan akses ke pasar Indonesia, ASEAN, dan pasar global," ujar dia.
Di Kura-Kura Bali, pengembangan investasi juga diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan, riset, dan teknologi. TSEA yang berada di kawasan tersebut telah menjalankan sejumlah program di bidang fisika dan neurosains serta menginisiasi Semiconductors Forum bersama Tsinghua University.
Ke depan, Kura Kura Bali dipersiapkan untuk menindaklanjuti program di bidang AI, riset dan pengembangan digital, serta ekonomi digital.
Pengembangan ekosistem teknologi tersebut berjalan beriringan dengan realisasi investasi di Kura-Kura Bali. Hingga semester I 2026, investasi kumulatif di kawasan tersebut mencapai Rp1,8 triliun dengan penyerapan 2.173 tenaga kerja. Kawasan tersebut juga mencatat 131.657 kunjungan hingga periode yang sama.
