Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DEN Ungkap Penyebab Lambatnya Pengembangan PLTN di Indonesia
Forum Economic Frontline dengan tema: Menimbang Manfaat, Biaya, Risiko, dan Kesiapan Pembangunan PLTN di Indonesia
  • Pengembangan PLTN berjalan lambat karena pemerintah menerapkan kehati-hatian dalam menentukan lokasi dan memenuhi berbagai persyaratan.

  • BRIN telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial, sementara pemerintah menargetkan penetapan tapak paling lambat 2027.

  • Sebanyak 16 dari 19 parameter kesiapan teknologi terpenuhi, tetapi aspek lingkungan, sumber daya manusia, dan geopolitik masih menjadi perhatian.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sejak tahun lalu

BRIN telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial untuk pengembangan PLTN di Indonesia.

2026—2030

Muhammad Kholid Syeirazi menjadi Anggota Dewan Energi Nasional.

Rabu (14/10)

Muhammad Kholid Syeirazi menyampaikan bahwa pengembangan PLTN diperlakukan dengan hati-hati sehingga prosesnya berlangsung lama.

paling lambat 2027

Pemerintah menargetkan penetapan tapak pembangunan PLTN.

6 bulan

Topan Setiadipura menyebut pemilihan tapak perlu dilakukan sebelum tahapan pembangunan berikutnya dimulai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Progres pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berjalan lambat karena memerlukan kehati-hatian mendalam.
  • Who?
    Dewan Energi Nasional, BRIN, Muhammad Kholid Syeirazi, dan Topan Setiadipura terlibat dalam kajian serta penjelasan kesiapan PLTN.
  • Where?
    Pengembangan PLTN berlangsung di Indonesia, dengan 28 lokasi potensial yang telah diidentifikasi.
  • When?
    Identifikasi lokasi dilakukan sejak tahun lalu, dengan target penetapan tapak paling lambat 2027.
  • Why?
    Penentuan lokasi, persyaratan lingkungan, kesiapan sumber daya manusia, aspek pendukung, dan geopolitik masih menjadi perhatian.
  • How?
    Kesiapan dinilai melalui 19 parameter Technological Readiness Level; 16 telah terpenuhi dan tiga lainnya masih perlu ditinjau.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pengembangan PLTN di Indonesia berjalan pelan karena pemerintah ingin memeriksa semuanya dengan hati-hati. BRIN sudah menemukan 28 tempat yang mungkin dipakai. Pemerintah ingin memilih tempatnya paling lambat 2027. Ada 16 dari 19 hal teknologi yang sudah siap, tetapi lingkungan, orang yang bekerja, dan masalah geopolitik masih diperiksa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kehati-hatian dalam pengembangan PLTN membuat penentuan lokasi, kesiapan teknologi, persyaratan lingkungan, dan sumber daya manusia diperiksa secara menyeluruh. Proses ini juga melibatkan masukan masyarakat serta dukungan kajian teknis dan rekayasa dari BRIN bagi calon pengembang, sehingga setiap tahapan memiliki bahan pertimbangan yang lebih lengkap.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Proses pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) seringkali memakan waktu lama. Dewan Energi Nasional (DEN) mengatakan, salah satu penyebabnya, ialah butuh kehati-hatian dan kajian mendalam sebelum pembangkit tersebut dikembangkan.

Sejak tahun lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial untuk pengembangan PLTN di Indonesia. Pemerintah sendiri menargetkan penetapan tapak pembangunannya paling lambat 2027.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026—2030, Muhammad Kholid Syeirazi, mengatakan lokasi-lokasi PLTN masih terus dikaji secara mendalam dan menunggu hasil peninjauan, termasuk beberapa masukan dari masyarakat sebagai bahan pertimbangan.

"Ini memang sektor yang di treatment dengan cara yang hati-hati, sehingga lama sekali," kata dia di Jakarta, Rabu (14/10).

Dia menjelaskan, kesiapan pengembangan PLTN dinilai berdasarkan Technological Readiness Level (TRL) atau tingkat kesiapan teknologi. Dari 19 parameter yang disebutkannya, sebanyak 16 parameter telah terpenuhi, sedangkan tiga lainnya masih perlu ditinjau lebih lanjut.

Selain itu aspek yang masih menjadi perhatian berkaitan dengan persyaratan lingkungan. Pemerintah, kata Kholid, perlu memastikan seluruh persyaratan tersebut terpenuhi sebelum memberikan persetujuan.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir, Organisasi Riset Tenaga Nuklir, BRIN, Topan Setiadipura, mengungkapkan sudah ada perusahaan tertarik mengembangkan PLTN, meskipun menghadapi kendala geopolitik.

“Bisa jadi RI1 mengetahui bahwa dalam enam bulan ini persiapannya belum siap. Jadi, belum ditandatangani dulu. Sebab, setelah ditandatangani, dalam enam bulan tapaknya sudah harus ditentukan. Enam bulan berikutnya, pembangunan juga harus mulai berjalan. Tampaknya, RI1 melihat persiapannya belum matang sehingga belum menandatangani,” jelasnya.

Menurut Topan, pemerintah juga perlu memastikan kesiapan sumber daya manusia serta berbagai aspek pendukung lainnya. BRIN, kata dia, berperan membantu calon pengembang PLTN melalui kajian dari sisi teknis dan rekayasa, meski lembaga tersebut bukan pelaksana langsung pembangunan pembangkit.

Curated For You

Editorial Team

EditorEkarina .

Related Article