Jakarta, FORTUNE - PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) memastikan ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk penutupan jalur Selat Hormuz, belum berdampak langsung terhadap aktivitas produksi maupun operasional perseroan.
Corporate Secretary MEDC, Siendy K. Wisandana, menyampaikan perseroan terus memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut. MEDC memiliki aset operasional di Timur Tengah, khususnya di Oman melalui Blok 60 dan Blok 48.
“Situasi ini masih dalam perkembangan. Namun hingga saat ini belum terdapat dampak langsung terhadap produksi dan operasional perseroan di Oman,” ujar Siendy dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (5/3).
MEDC juga menegaskan bahwa penutupan jalur distribusi melalui Selat Hormuz tidak mengganggu distribusi minyak milik perseroan.
Di sisi lain, fluktuasi harga minyak mentah dunia jenis Brent yang dipicu konflik geopolitik tersebut berpotensi memengaruhi proyeksi pendapatan (revenue) dan beban operasional (opex) perseroan pada tahun buku 2026.
Kendati demikian, MEDC menyatakan telah mengantisipasi fluktuasi harga minyak yang signifikan. Siendy menjelaskan, perseroan telah mempublikasikan panduan sensitivitas EBITDA yang mana setiap perubahan harga minyak sebesar US$10 per barel dalam satu tahun penuh diperkirakan berdampak terhadap EBITDA 2026 sekitar US$140 juta. Meski demikian, MEDC tetap menargetkan biaya produksi minyak dan gas berada di bawah US$10 per barel setara minyak (boe).
Perseroan memastikan keselamatan personel serta perlindungan aset menjadi prioritas utama. MEDC bersama mitra lokal juga telah menyiapkan rencana keberlangsungan usaha serta protokol operasional untuk menghadapi perkembangan situasi.
Adapun, terkait potensi kenaikan biaya asuransi pengiriman (marine insurance) maupun biaya logistik akibat meningkatnya risiko di kawasan Teluk, MEDC menyatakan tidak memiliki paparan langsung terhadap biaya asuransi maritim tersebut.
