Jakarta, FORTUNE - Bagi PT Dayamitra Telekomunikasi TBK atau Mitratel, prinsip- prinsip ESG bukan cuma penghias bisnis belaka, tapi fondasi penting bagi strategi perusahaan dalam jangka panjang.
Penerapan asas keberlanjutan itu mereka anggap berkontribusi tidak saja terhadap lingkungan, tapi juga efisiensi operasional dan kinerja bisnis.
Salah satu inisiatif terbaru yang dijalankan oleh anak usaha Telkom Indonesia itu adalah penggunaan glass fiber reinforced polymer (GFRP) sebagai pengganti besi dan baja pada menara telekomunikasi.
Penggunaan material campuran fiberglass dan resin ini dianggap memiliki dampak lingkungan cukup besar. Pasalnya, besi dan baja membutuhkan proses panjang—mulai dari penambangan, proses logistik dan distribusi yang harus menggunakan truk besar yang haus bahan bakar, hingga penempaan dan fabrikasi yang melepaskan emisi ke udara.
Dengan beralih ke material alternatif, sebagian besar jejak karbon dari rantai proses itu dapat ditekan.
Secara bisnis, penggunaan material ini juga diklaim lebih efisien. Pasalnya, perawatan menara menjadi lebih mudah karena tidak membutuhkan pengecatan berkala; tidak korosif ketika ditempatkan di kawasan pesisir; serta mampu meminimalisir risiko pencurian dan kehilangan besi yang acap kali terjadi di beberapa lokasi.
Hasilnya, dari implementasi yang dilakukan, terjadi penghematan biaya material 10 persen dibandingkan material sebelumnya.
“Mitratel mungkin salah satu yang pertama di [Asia Tenggara] yang menerapkan tower berbahan glass fiber. Kenapa? Karena kami ingin menghadirkan tower yang lebih hijau— meskipun biaya material masih tinggi. Perbedaan dampak lingkungannya besar,” kata Agus Winarno, Direktur Bisnis Mitratel kepada Fortune Indonesia di kantornya pada pertengahan November lalu.
Meski berbobot 60 persen lebih ringan, kekuatan menara berbahan GFRP tidak kalah dari menara berbahan logam dalam menggendong antena dan perangkat telekomunikasi. Sudah begitu, proses pembangunannya lebih cepat dan efisien. Ini menghasilkan peningkatan pada efektivitas operasional.
Karena dirancang untuk kebutuhan pemasangan di area rooftop, menara GFRP hanya memiliki tinggi 15 meter. Jauh lebih pendek dari menara konvensional yang umumnya mencapai sekitar 50 meter. Dengan ukuran lebih ringkas dan struktur yang jauh lebih ringan, menara GFRP pun dapat menjadi solusi ideal bagi kebutuhan kolokasi operator maupun ekspansi menara di lokasi dengan lahan terbatas.
Dari sudut pandang keberlanjutan, pemasangan menara GFRP membantu Mitratel dalam menggunakan baja hingga 1.748 kg atau setara pengurangan karbon 0,119 ton CO2 eq, sebagaimana termaktub pada laporan keberlanjutan perusahaan pada 2024.
“Ke depannya, kami telah menyusun strategi terkait implementasi penggunaan GFRP, di antaranya menjalin kolaborasi dengan mitra strategis, mendorong implementasi 5G, meningkatkan kerja sama dengan pabrikan, dan memperbanyak menara-menara yang menggunakan bahan ramah lingkungan,” kata Agus.
