Jakarta, FORTUNE - Tahun 2025 menjadi periode yang berat bagi ekosistem startup Indonesia. Arus pendanaan modal ventura menyusut tajam, kontras dengan tren global yang justru masih agresif—terutama pada investasi kecerdasan buatan (AI). Bagi Patrick Yip, Founding Partner Intudo Ventures, situasi ini menandai sebuah reset besar yang memaksa investor dan founder kembali pada disiplin dasar bisnis: efisiensi, profitabilitas, dan value nyata dari teknologi.
Berbicara dalam Fortune Indonesia Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026, pada sesi “Reframing Technology: From Expense to Value”, Patrick menilai awal tahun tidak berjalan mulus bagi Indonesia, sebab ada beberapa peristiwa di dunia investasi perusahaan rintisan yang menggerus kepercayaan investor.
Di saat yang sama, investasi teknologi, khususnya AI tetap kuat di Amerika Serikat. Namun Patrick menekankan bahwa AI bukan satu lapis. “AI investment itu kan memang bisa dibagi beberapa lapis,” katanya. Di Indonesia, arus dana lebih banyak mengalir ke lapisan infrastruktur dan foundation layer, sementara peluang di application layer yang lebih relevan bagi VC masih terbatas. Karena itu, Intudo memosisikan AI sebagai enabler, bukan tujuan akhir.
Skala reset terlihat jelas dari data pendanaan. Puncak pendanaan startup Indonesia terjadi pada 2021 dengan total sedikit di atas US$9 miliar. Tahun lalu, nilainya anjlok menjadi sekitar US$300 juta—turun 97 persen. “So it's a huge reset for sure,” kata Patrick. Penurunan ini memaksa founder lebih kreatif dengan dana yang di luar ekspektasi dan mencari jalur profitabilitas yang lebih dekat, sebuah pola pikir yang menurutnya belum umum ketika Intudo mulai berinvestasi pada 2017.
Dalam konteks itu, Intudo justru melihat peluang di bisnis konsumer yang ditopang teknologi. “Penerapan teknologi memberikan dampak paling signifikan di sektor konsumen,” ujarnya. Salah satu investasi digelontorkan ke Jago Coffee, yang menggunakan sistem cerdas untuk memprediksi permintaan dan mengoptimalkan aset bergerak agar tidak menganggur.
Dalam investasi, Patrick tak membantah ada peluang kebocoran. Sejalan dengan temuan lanjutan McKinsey menunjukkan rata-rata perusahaan hanya menangkap sekitar 30 persen value dari investasi teknologi. Bagi Patrick, kebocoran value kerap berasal dari aset yang underutilized. “Jadi, setiap aset yang tidak dimanfaatkan secara optimal atau tingkat pemanfaatannya belum maksimal, pada dasarnya tidak produktif,” katanya.
Di bisnis konsumer dengan margin tipis, teknologi berperan menjembatani kebocoran tersebut, mulai dari prediksi permintaan hingga penempatan sumber daya yang presisi. “Teknologi tidak selalu harus berbasis AI, namun dapat menjadi penghubung untuk menutup celah tersebut,” katanya, menambahkan.
