Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
IMG-20260206-WA0001.jpg
Diskusi The Creator Economy's Next Chapter di Jakarta. Dok Fortune Indonesia

Intinya sih...

  • Pelaku industri mengandalkan pendekatan berbasis vertikal, platform, dan kreator untuk menjangkau segmen konsumen secara spesifik.

  • Platform musik dan festival cocok untuk produk digital banking bagi usia 30 tahun ke bawah, sementara kanal film dan aplikasi micro drama efektif untuk ibu berusia 25–40 tahun.

  • Kolaborasi dengan kreator dari berbagai tingkatan, lokalisasi konten, dan membangun keterlibatan antara brand dan audiens menjadi fokus dalam pemasaran berbasis kreator.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pelaku industri dinilai semakin mengandalkan pendekatan berbasis vertikal, platform, dan kreator untuk menjangkau segmen konsumen secara lebih spesifik. Strategi ini diterapkan dalam berbagai kampanye, mulai dari peluncuran produk digital hingga produk konsumen seperti kecantikan, F&B, dan keuangan.

Misalnya saja, untuk segmen usia 30 tahun ke bawah, platform musik dan festival dinilai menjadi kanal potensial, terutama bagi peluncuran aplikasi digital banking. Audiens yang hadir di festival musik dinilai memiliki kesesuaian demografis dengan target pengguna produk digital.

“Jika ingin meluncurkan produk digital banking dan menargetkan usia 30 tahun ke bawah, salah satu platform yang bisa dicoba adalah musik, karena banyak audiens di festival musik berada pada rentang usia tersebut,” ujar COO IDN, William Utomo, dalam diskusi di Jakarta, Kamis (5/2). 

Kolaborasi dapat dilakukan dengan penampil dalam festival musik maupun aktivasi di area penonton. Sementara itu, untuk segmen ibu berusia 25–40 tahun, kanal film dan aplikasi micro drama disebut sebagai vertikal yang efektif untuk menjangkau audiens. 

Untuk audiens di bawah 20 tahun, strategi pemasaran produk perawatan diri dinilai dapat diarahkan ke platform live streaming dengan menggandeng kreator streamer.

Segmen usia 40 tahun ke atas dengan daya beli tinggi dinilai relevan dijangkau melalui vertikal finansial, baik melalui acara bertema keuangan maupun kolaborasi dengan kreator di sektor tersebut. Pendekatan serupa juga diterapkan pada sektor F&B dan kecantikan, dengan memilih platform dan kreator yang sesuai dengan karakter audiens.

“Kerangka yang kami gunakan adalah memilih vertikal terlebih dahulu, kemudian platform, dan terakhir kreator. Dengan anggaran tertentu, pendekatan ini membantu menentukan kolaborasi yang paling efektif,” katanya.

Dalam diskusi di agenda yang sama, pelaku industri dan kreator konten menyoroti pentingnya membangun keterlibatan (engagement) dan rasa memiliki antara brand dan audiens, bukan hanya awareness. Disebutkan bahwa perhatian dapat diperoleh dengan mudah, namun membangun kedekatan dengan audiens membutuhkan waktu dan konsistensi.

“Menurut saya, belonging (keterikatan) itu bukan hanya sekadar awareness. Banyak orang yang bisa viral di TikTok, namun tidak semua kreator bisa mendapatkan banyak komentar atau engage dengan followers-nya,” ujar stand up comedian dan kreator konten, Oza Rangkuti.

Selain itu, pemilihan kreator disebut perlu disesuaikan dengan persona dan karakter audiens. Brand dinilai perlu menyesuaikan brief dengan karakter kreator agar pesan kampanye tetap relevan dan tidak mengubah persona kreator. “Kami biasanya memilih kreator berdasarkan persona yang sesuai dengan produk, lalu menyesuaikan konten yang ingin disampaikan kepada audiens,” ungkap Head of Social Lazada Indonesia, Fajar Maulana.

Dalam praktiknya, kampanye dapat melibatkan berbagai tingkatan kreator, mulai dari selebritas hingga kreator niche, tergantung pada tujuan kampanye. Untuk peluncuran kampanye baru, kolaborasi dengan kreator berskala besar digunakan untuk menjangkau audiens luas. Sementara itu, untuk meningkatkan keterlibatan dan penjualan, kolaborasi dengan kreator makro, mikro, hingga niche disebut lebih relevan.

Pelaku industri juga menekankan pentingnya lokalisasi konten sesuai wilayah target pasar. Dalam kampanye yang berfokus pada kota tertentu, pemilihan kreator lokal dan penyesuaian bahasa dinilai dapat meningkatkan relevansi pesan kepada audiens.

Dalam proses kolaborasi, brand disebut perlu memberi ruang bagi kreator agar tetap menjaga kepercayaan audiens. Pendekatan berbasis vertikal, platform, dan kreator tersebut disebut dapat diterapkan pada berbagai sektor industri dengan menyesuaikan tujuan kampanye dan karakter target pasar.

Editorial Team