Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Pasar Gedung Perkantoran Berangsur Pulih, Green Building Jadi Incaran

2 min read
Pasar Gedung Perkantoran Berangsur Pulih, Green Building Jadi Incaran
Pemandangan Kota Jakarta, dengan Bundaran Hotel Indonesia (HI) (tengah) dan gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya (pexels.com/Tom Fisk)
  • Permintaan ruang perkantoran Jakarta meningkat, tetapi tenant semakin selektif terhadap kualitas, efisiensi operasional, dan standar green building.

  • Ruang kosong gedung premium lebih terbatas dibandingkan segmen grade A, terutama di kawasan SCBD dengan tingkat okupansi sekitar 87 persen.

  • Relokasi masih menjadi pendorong utama transaksi, sementara pemilik gedung mulai menawarkan kesiapan ruang, efisiensi biaya, dan kualitas bangunan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Permintaan terhadap gedung perkantoran di Jakarta mulai meningkat seiring pemulihan pasar perkantoran. Belakangan pertimbangan konsumen properti juga kian meluas, tidak hanya berkaitan dengan harga dan lokasi, tapi juga masalah keberlanjutan.

Departemen Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan bahwa permintaan semakin terkonsentrasi pada gedung-gedung berkualitas tinggi, termasuk gedung yang memenuhi standar green building agar bisa memenuhi standar ESG perusahaan penyewa.

"Ada fenomena menarik, Jakarta secara keseluruhan sebenarnya masih mempunyai cukup banyak ruang kosong, tetapi ruang kosong yang benar-benar diinginkan penyewa, kemudian gedungnya berkualitas dan operasionalnya efisien justru mulai semakin terbatas," ujar dia dalam media briefing secara virtual, Kamis (8/10).

Berdasarkan data Colliers, pada kuartal III 2026 ruang kantor kosong di Jakarta mencapai sekitar 3 juta meter persegi. Namun, jika dilihat berdasarkan kualitas gedung, ruang kosong di segmen premium jauh lebih terbatas.

Di kawasan SCBD, misalnya, ruang kosong pada gedung premium tercatat sekitar 128.000 meter persegi. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ruang kosong pada gedung grade A yang mencapai sekitar 873.000 meter persegi.

"Jadi meskipun secara agregat Jakarta masih memiliki banyak pilihan ruang kantor, pilihan untuk gedung yang benar-benar kualitas premium itu mulai jauh lebih terbatas," kata dia.

Ia mencontohkan kawasan SCBD menjadi salah satu kawasan yang menunjukkan tren tersebut. Tingkat okupansi perkantoran di kawasan itu telah mencapai sekitar 87 persen. Pemulihan ditopang oleh kualitas gedung, akses transportasi publik seperti MRT, serta keberadaan pusat perbelanjaan, hotel, dan fasilitas lain dalam satu kawasan.

Sejumlah aset premium mencatat tingkat okupansi di atas 90 persen. Kondisi tersebut mulai meningkatkan daya tawar pemilik gedung untuk mempertahankan harga sewa dan mengurangi insentif yang diberikan kepada tenant.

Perubahan preferensi tenant juga terlihat dari aktivitas relokasi. Setelah beberapa tahun perusahaan melakukan downsizing atau rightsizing pascapandemi, permintaan mulai bergeser ke gedung yang dinilai lebih berkualitas.

Pada kuartal III 2026, aktivitas ekspansi mulai muncul dari sejumlah pada sector energi, teknologi dan IT, logistik, serta consumer goods. Meski demikian ia menekankan, kondisi tersebut belum menunjukkan ekspansi pasar secara luas karena relokasi masih menjadi pendorong utama transaksi.

Dengan meningkatnya perhatian tenant terhadap kualitas gedung, persaingan antar pemilik properti juga mulai bergeser. Pemilik gedung tidak lagi hanya mengandalkan harga sewa murah, tetapi menawarkan nilai yang lebih besar melalui kesiapan ruang, efisiensi biaya, dan kualitas bangunan.

    Share Article
    Editorial Team
    Ekarina .
    EditorEkarina .

    Related Articles

    See More