Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Token stablecoin blockchain UST Terra USD di berbagai tumpukan dengan latar belakang hitam. Shutterstock/David Sandron
Token stablecoin blockchain UST Terra USD di berbagai tumpukan dengan latar belakang hitam. Shutterstock/David Sandron

Intinya sih...

  • Visa berupaya mengintegrasikan stablecoin ke sistem pembayaran eksisting untuk mempertahankan dominasinya di industri pembayaran.

  • Stablecoin adalah mata uang kripto yang nilainya dipatok pada aset tertentu, memungkinkan pengiriman dana dilakukan di luar sistem perbankan tradisional.

  • Volume penyelesaian transaksi stablecoin Visa saat ini mencapai laju tahunan sekitar US$4,5 miliar, masih kecil dibandingkan total volume pembayaran tahunan Visa pada 2025 yang mencapai US$14,2 triliun.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Visa tengah berupaya mengintegrasikan stablecoin ke dalam sistem pembayaran eksisting. Langkah ini dinilai dapat membuka  peluang bagi Visa untuk mempertahankan dominasinya di industri pembayaran, seiring kian meluasnya penggunaan token tersebut. 

Stablecoin adalah mata uang kripto yang nilainya dibuat stabil dengan cara dipatok pada aset tertentu, paling umum dolar AS, sehingga memungkinkan pengiriman dana dilakukan di luar sistem perbankan tradisional. Meski peredarannya meningkat pesat—dipimpin oleh USDT milik Tether yang berbasis di El Salvador dengan sekitar US$187 miliar token beredar—penerimaan oleh pedagang arus utama masih terbatas.

Dikutip dari Reuters, Kepala Divisi Kripto Visa, Cuy Sheffield menjelaskan, meskipun sistem pembayaran baru dapat dibangun dengan teknologi di balik stablecoin, “pada akhirnya tetap harus terhubung dengan ekosistem pedagang yang sudah ada agar produk tersebut benar-benar bisa digunakan,” mengacu pada jaringan penjual saat ini yang menerima pembayaran.

Saat ini, Visa telah memiliki berbagai inisiatif terkait stablecoin, termasuk kartu pembayaran yang terhubung dengan stablecoin. Pada Desember lalu, Visa meluncurkan program percontohan yang memungkinkan sejumlah bank di Amerika Serikat melakukan penyelesaian transaksi dengan Visa menggunakan stablecoin USDC milik Circle.

Namun, Sheffield mengungkapkan, hingga kini belum ada “penerimaan pedagang dalam skala besar” yang memungkinkan pemegang stablecoin membelanjakan aset mereka secara luas. 

“Kondisi ini membuat perusahaan-perusahaan semakin membutuhkan produk dan layanan Visa agar benar-benar bisa menjangkau dan digunakan oleh konsumen nyata,” ujarnya dikutip dari Reuters, Kamis  (15/1).

Volume penyelesaian transaksi stablecoin Visa saat ini telah mencapai laju tahunan sekitar US$4,5 miliar. Meski demikian, angka tersebut masih sangat kecil dibandingkan total volume pembayaran tahunan Visa pada 2025  yang mencapai US$14,2 triliun.

Sebelumnya, Visa melakukan kemitraan dengan perusahaan infrastruktur pembayaran stablecoin BVNK, guna mengintegrasikan fungsi stablecoin ke jaringan realtime Visa Direct. 

“Ini menjadi momen penting dalam perjalanan BVNK. Saya dengan antusias mengumumkan bahwa kami telah memperoleh investasi strategis dari Visa melalui unit Visa Ventures. Kemitraan ini bukan sekadar soal pendanaan—ini merupakan pengakuan kuat atas visi kami untuk meningkatkan sistem pembayaran global melalui teknologi stablecoin,” Jesse Hemson Struthers, CEO and Co-Founder BVNK dikutip dari situs resminya.

Menurutnya, dunia menyaksikan perubahan besar yang hanya terjadi sekali dalam satu generasi: peralihan menuju teknologi dasar baru dalam sistem pembayaran. Berdasarkan data Visa Onchain Analytics, 2025, volume transaksi stablecoin global telah mencapai US$27 triliun melalui 1,25 miliar. “Transaksi ini bukan sekadar inovasi bertahap, melainkan perubahan mendasar dalam cara uang berpindah,” katanya.

BVNK berkeyakinan, stablecoin akan berkembang menjadi jalur pembayaran global yang instan serta alternatif yang layak bagi sistem perbankan koresponden tradisional. “Karena itu, kami membangun infrastruktur dari nol untuk mengotomatisasi dan mengkoordinasikan pembayaran stablecoin dalam skala besar, sehingga jalur pembayaran baru ini dapat diakses oleh bisnis dari berbagai ukuran,” ujarnya. 

Kemitraan dengan Visa ini hadir tak lama setelah pendanaan Seri B senilai US$50 juta yang perusahaan peroleh pada Desember 2024, dipimpin oleh Haun Ventures dengan partisipasi dari Coinbase Ventures, Scribble Ventures, DRW Venture Capital, Avenir, dan Tiger Global. Kepercayaan berkelanjutan dari para investor tersebut memungkinkan BVNK mempercepat laju pertumbuhan.

“Stablecoin semakin menjadi bagian dari arus pembayaran global, dan Visa berinvestasi pada teknologi serta para inovator seperti BVNK untuk tetap berada di garis depan masa depan perdagangan, demi melayani klien dan mitra kami dengan lebih baik,” kata Rubail Birwadker, Head of Growth Products and Partnerships Visa menambahkan.


Editorial Team

EditorEkarina .