Jakarta, FORTUNE - Emiten sektor kesehatan, PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA), membukukan pendapatan senilai Rp2,28 triliun sepanjang 2025, naik 1,31 persen (YoY). Kendati demikian, laba bersih perseroan terkoreksi.
Dikutip dari laporan keuangan perseroan pada periode 2025, laba bersih PRDA menurun 23,47 persen (YoY) dari Rp270,19 miliar menjadi Rp206,79 miliar. Salah satu penyebabnya adalah beban pokok penjualan yang naik 5,42 persen (YoY) menjadi Rp949 miliar. Itu karena kenaikan harga bahan medis, reagen, serta investasi pada kualitas layanan dan teknologi diagnostik.
"Memasuki 2026, Prodia akan semakin memperkuat pengembangan precision medicine-nya melalui ekspansi specialty clinic di bidang stem cell, autoimun, dan longevity, serta penguatan ekosistem digital," kata Direktur Utama Prodia, Dewi Muliaty dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (13/3).
Secara detail, pendapatan PRDA meningkat karena kontribusi signifikan dari segmen pemeriksaan rutin yang menjadi tulang punggung bisnis perseroan. Ditambah dengan meningkatnya permintaan pada layanan esoterik.
Dari segi neraca keuangan, perseroan melaporkan aset sejumlah Rp2,7 triliun. Sementara itu, total liabilitas dan ekuitas perseroan masing-masing mencapai Rp302 miliar dan Rp2,39 triliun.
Di samping itu, arus kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi perseroan mencapai Rp424 miliar. Di lain sisi, aktivitas investasi PRDA menghasilkan kas sebesar Rp55 miliar.
Secara aktif, PRDA juga merealisasikan belanja modal lebih dari Rp165 miliar pada 2025, dengan fokus pada pengembangan infrastruktur, modernisasi peralatan laboratorium, serta inovasi layanan digital. Melalui investasi tersebut, perseroan bertujuan memperkuat daya saing, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung strategi ekspansi berkelanjutan di masa depan.
"Prodia juga memprioritaskan pengembangan pemeriksaan esoterik dan diagnostik klinis kompleks melalui Prodia Clinical Multiomics Centre (PCMC) by Mass Spectrometry Technology yang didukung Clinical Decision Support (CDS), sebagai upaya mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dengan nilai tambah yang lebih tinggi," kata Dewi.
Sepanjang 2025, Prodia juga mencatatkan lebih dari 888.000 pelanggan baru, dengan total lebih dari 20 juta tes dilakukan. Pada kanal digital U by Prodia, terdapat lebih dari 2,9 juta pengunduh (naik 70 persen, YoY) dengan peningkatan total nilai transaksi sebesar 37 persen. Rata-rata pengguna aktif bulanan (MAU) pun mencapai 94 persen.
Ekspansi jaringan menjadi salah satu fokus utama PRDA pada 2025, dengan penambahan 1 Lab Medis, 2 Genomic Site, dan 71 POC. Dengan demikian, per akhir 2025, perseroan telah memiliki 402 outlet yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia, serta memperluas kemitraan internasional ke Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste.
Dalam aspek ESG, Prodia berhasil mengurangi emisi karbon lebih dari 5 persen (YoY), dengan 70 persen pengguna memanfaatkan layanan pemeriksaan daring melalui U by Prodia.