Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Samsung Investasi Rp17,8 Triliun di Perusahaan Infrastruktur AI di AS
ilustrasi teknologi artificial intelligence (AI) (pixabay.com/sujins)
  • Enam perusahaan Samsung menginvestasikan total US$1 miliar atau sekitar Rp17,8 triliun ke Helix Digital Infrastructure, perusahaan infrastruktur AI AS yang didirikan KKR.
  • Samsung Electronics menyetor US$500 juta, sementara lima afiliasi lain berbagi US$500 juta untuk mendukung pembangunan infrastruktur AI Helix secara global.
  • Helix mengembangkan pusat data hyperscale, listrik, transmisi, serat optik, dan konektivitas; investasi Samsung menaikkan modal Helix menjadi lebih dari US$11 miliar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE — Samsung memperluas pijakannya di ekosistem kecerdasan buatan (AI) dengan masuk lebih dalam ke sektor infrastruktur. Enam perusahaan dalam grup asal Korea Selatan tersebut sepakat menanamkan modal gabungan sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp17,8 triliun ke Helix Digital Infrastructure, perusahaan infrastruktur AI asal Amerika Serikat yang didirikan oleh KKR.

Investasi tersebut melibatkan Samsung Electronics, Samsung C&T, Samsung SDS, Samsung SDI, Samsung Life Insurance, dan Samsung Fire & Marine Insurance. Samsung Electronics menyetor US$500 juta, sedangkan lima perusahaan afiliasi lainnya secara bersama-sama menyediakan US$500 juta.

Langkah ini menempatkan Samsung tidak hanya sebagai pemasok komponen teknologi, tetapi juga sebagai investor dalam infrastruktur yang menopang pengembangan AI. Infrastruktur tersebut mencakup pusat data berskala besar, pasokan energi, jaringan transmisi dan distribusi listrik, hingga konektivitas.

Reuters melaporkan investasi Samsung akan mendukung pembangunan infrastruktur AI Helix secara global. Helix berfokus pada pengembangan dan pengelolaan pusat data hyperscale, pembangkit serta transmisi listrik, jaringan serat optik, dan aset konektivitas yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem AI berskala besar.

Samsung menyebut investasi tersebut membuka peluang untuk menghubungkan kemampuan berbagai perusahaan dalam grup dengan bisnis infrastruktur Helix. Dengan portofolio yang mencakup semikonduktor, konstruksi, teknologi informasi, penyimpanan energi, hingga jasa keuangan, Samsung memiliki kepentingan yang tersebar di sejumlah bagian rantai nilai infrastruktur AI.

Helix diluncurkan pada Juni 2026 oleh KKR bersama Kuwait Investment Authority (KIA), Nvidia, dan perusahaan pembangkit listrik Amerika Serikat, Vistra. Saat diluncurkan, perusahaan tersebut telah mengantongi komitmen modal jangka panjang lebih dari US$10 miliar.

Perusahaan ini dirancang untuk menangani kebutuhan infrastruktur AI secara terintegrasi, mulai dari pembangunan dan pengoperasian pusat data hyperscale, pembangkitan listrik, jaringan transmisi dan distribusi, hingga jaringan serat optik.

Helix dipimpin Adam Selipsky, mantan Chief Executive Officer Amazon Web Services (AWS). Nvidia bertindak sebagai mitra strategis, sementara Vistra menjadi mitra pilihan Helix untuk penyediaan listrik.

Model bisnis tersebut berbeda dari pengembang pusat data yang hanya berfokus pada pembangunan fasilitas. Helix berupaya mengintegrasikan berbagai kebutuhan pendukung komputasi AI, termasuk ketersediaan listrik dan konektivitas, agar fasilitas dapat dikembangkan dalam skala besar dan waktu yang lebih cepat.

Data Center Dynamics melaporkan Helix berencana mengembangkan pusat data hyperscale dengan pasokan listrik yang terintegrasi. Helix juga akan mengeksplorasi pemanfaatan kemampuan Samsung dalam teknologi, konstruksi, penyimpanan energi, dan sistem pendingin untuk mempercepat pembangunan infrastruktur digital generasi berikutnya.

Kebutuhan terhadap model infrastruktur seperti ini meningkat seiring dengan pertumbuhan komputasi AI. Pengoperasian model AI berskala besar membutuhkan kapasitas pusat data yang tinggi sekaligus pasokan listrik dan sistem pendinginan yang memadai.

Melansir Yonhap News Agency, kebutuhan terhadap pusat data, pasokan listrik, dan sistem pendingin ikut meningkat seiring ekspansi industri AI. Helix berupaya mengatasi salah satu kendala utama pembangunan infrastruktur AI, yakni ketersediaan listrik, melalui investasi langsung dan kemitraannya dengan Vistra.

Bagi Samsung, investasi tersebut memperluas keterlibatannya dari sisi komponen menuju infrastruktur yang menjadi fondasi pengembangan AI.

Samsung Electronics memiliki bisnis semikonduktor, sementara Samsung C&T memiliki kemampuan di bidang konstruksi dan energi. Samsung SDS bergerak di teknologi informasi dan layanan cloud, sedangkan Samsung SDI memiliki kapabilitas dalam teknologi baterai dan penyimpanan energi.

Kombinasi tersebut memberikan ruang bagi Samsung untuk memanfaatkan kemampuan lintas perusahaan dalam pengembangan infrastruktur AI bersama Helix. Samsung juga bergabung dengan KKR, KIA, Nvidia, dan Vistra sebagai investor pendiri Helix.

The Wall Street Journal melaporkan investasi tersebut meningkatkan modal yang telah diamankan Helix menjadi lebih dari US$11 miliar. Investasi Samsung juga memperlihatkan upaya perusahaan untuk memperluas perannya dalam ekosistem AI, dari pemasok komponen menjadi bagian dari pembangunan fasilitas dan infrastruktur yang menjalankan komputasi AI.

Curated For You

Editorial Team

Related Article