Jakarta, FORTUNE - Emiten peternakan dan perunggasan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), buka suara mengenai implementasi pengalihan impor bungkil kedelai (Soybean Meal/SBM) ke PT Berdikari pada 2026.
Direktur Japfa, Rachmat Indrajaya, mengatakan, pada kuartal-I 2026, aturan tersebut disebut tidak berdampak terhadap performa perseroan pada kuartal-I 2026. Itu didukung oleh sejumlah langkah, seperti efisiensi, pemanfaatan teknologi, hingga penerapan biosekuriti.
"Kami mengikuti aturan pemerintah seperti apa. Memang ada sedikit perbedaan ya, biasanya bisa langsung, sekarang [melalui] Berdikari. Tapi pada prinsipnya kami tidak ada masalah, kami dukung apa pun aturan pemerintah," katanya kepada Fortune Indonesia di Jakarta, Selasa (12/5). "Kami tidak ada masalah [di kuartal-I 2026], masih dalam keadaan baik-baik saja."
Sebagai konteks, mulai 1 Januari 2026, pemerintah mengalihkan impor SBM dari perusahaan swasta ke PT Berdikari. Perusahaan pelat merah itu pun berperan sebagai pintu tunggal impor bungkil kedelai. Komoditas tersebut adalah bahan baku pakan ternak, yang dibutuhkan perusahaan seperti JPFA dan sebagainya.
JPFA sendiri berencana akan mengumumkan kinerja 3 bulan pertama 2026 paling lambat pada akhir Mei 2026.
Sebelumnya, Analis Samuel Sekuritas, Fadhlan Banny memperkirakan, lonjakan harga minyak mentah akan mendongkrak permintaan global untuk biodiesel, yang menggunakan CPO. Hal tersebut akan mengerek naik harga SBM, yang berdampak negatif bagi industri unggas.
"Hal itu diperparah oleh inisiatif pemerintah baru-baru ini untuk menunjuk Berdikari sebagai satu-satunya pintu masuk untuk impor SBM nasional, serta penguatan hubungan perdagnagan Indonesia dengan Amerika Serikat, yang dapat menyebabkan ketergantungan yang lebih besar pada SBM yang relatif lebih mahal [untuk] yang bersumber dari AS," demikian catatan Fadhlan dalam risetnya ppada 22 April 2026.
Selain itu, naiknya harga minyak mentah juga dapat meningkatkan biaya aditif pakan, seperti yang terjadi pada 2022. Ditambah lagi, bahan baku tersebut juga terkait dengan dolar AS, sehingga depresiasi rupiah lanjutan akan menekan margin para emiten di sektor peternakan-perunggasan.
"Dengan demikian, kami memperkirakan gross profit margin JPGA akan turun menjadi 20,7 persen pada 2026 [dari 21,7 persen pada 2025] dengan net profit margin menjadi 5,9 persen pada 2026 [dari 6,6 persen pada 2025]," tulis Fadhlan.
Samuel Sekuritas sendiri memproyeksikan pendapatan dan laba bersih JPFA akan mencapai Rp66,78 triliun dan Rp3,97 triliun sepanjang 2026.
