Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Wawancara Eksklusif Wilson Cuaca: Memilih Bertaruh pada IPO FORE
Wilson Cuaca - Co-founder & Managing Partner East Ventures.

Jakarta, FORTUNE - Franky Oesman Widjaja tampak wira-wiri di area Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/4). Ia hadir sebagai salah satu tamu dalam seremoni IPO pagi itu. Momen itu terbilang langka. Sebab, Franky bukan sosok yang mudah ditemui tanpa janji. Bahkan, Co-founder dan Managing Partner East Ventures (EV), Willson Cuaca, yang mengundang Franky secara pribadi pun sempat tak yakin bos Grup Sinar Mas itu akan hadir. Tapi, nyatanya ia ada di sana. Itu memang hari besar. Fore Coffee secara resmi menjadi perusahaan publik.

Franky bahkan tak sekadar mampir. Pantauan Fortune Indonesia, ia masih terlihat di gedung BEI hingga pukul 10.30 WIB. “Saya juga kaget. Dia juga bilang, [saat] perusahaannya IPO, dia tidak datang biasanya,” ujar Willson kepada Fortune Indonesia (21/4).

Selain Franky, turut hadir pula sang putri, Jesslyne Widjaja, yang jarang sekali tampil di depan media. Pandu Sjahrir, KGPAA Mangkoenagoro X Bhre Sudjiwo, hingga Triawan Munaf pun ada di sana. Kehadiran mereka bukan tanpa alasan. “Tujuh tahun lalu saya investasi di perusahaan kopi karena diajak Willson Cuaca, namanya Fore. Saya masuk ke sini sebagai kapasitas pribadi,” ujar Pandu (14/4).

Bagaimana dengan Franky? Pada dasarnya, Grup Sinar Mas dan EV memang erat berkolaborasi. Pengikatnya adalah rekan Willson dalam jajaran partner EV: Roderick Purwana. Ia adalah pencetus lahirnya Sinar Mas Digital Ventures (SMDV) pada 2014, dan EV adalah salah satu investasi pertamanya. Pada 2018, EV, Sinar Mas Digital Ventures, dan Yahoo! Japan Capital merilis EV Growth, yang berfokus pada pendanaan Seri B ke atas. Sementara, EV (di bawah kepemimpinan Willson) berkonsentrasi pada pendanaan tahap awal. Kedua entitas ini dilebur pada awal 2021.

Kolaborasi kedua pihak masih erat hingga saat ini. Bagi Franky, kehadirannya dalam IPO FORE medio April 2025 merupakan manifestasi dukungan Sinar Mas. Pun begitu dengan nama-nama prominen lain yang memenuhi undangan EV saat itu. “Kata Pak Franky, ini namanya support system,” kata Willson.

Oleh karenanya, menjaga relasi selalu menjadi hal penting dalam dunia modal ventura. Bagaimana EV mempertahankan itu? Jawabannya sederhana: empati. Misal, jika Anda seorang pengusaha, maka coba bayangkan investor seperti apa yang ingin Anda miliki? Maka, sebagai investor, ia akan mencoba menjadi sosok yang diharapkan itu.

Willson pun selalu melafalkan sebaris pesan kepada seluruh tim di EV: even if we could, we should not do it. Karena selalu ada momen saat kita berada di posisi dapat melakukan sesuatu, tetapi bisa berakhir merugikan orang lain. Khususnya sebagai pemodal. Apa contohnya? Melakukan exit secara mendadak.

EV berulang kali menegaskan bahwa IPO FORE bukan berarti jalan keluar investasi mereka di jaringan kopi premium itu. Dalam prospektus IPO pun dijelaskan, terdapat periode penguncian saham (lock up) pemegang saham FORE selama 12 bulan selepas pernyataan pendaftaran resmi efektif. Bagaimana jika ditanya dalam jangka panjang? Tentu ada niat exit. Namun, tidak sekarang. Tidak melalui IPO.

Lantas, kapan? Seperti apa parameter EV sebelum melakukan divestasi? “Kalau mau exit, parameter [EV] sangat sederhana, jangan sampai mencederai perusahaannya. Tidak boleh tiba-tiba. Itu kan pengaruhnya banyak ya, ke lapangan pekerjaan, ke staf,” kata Willson. “Lebih bertanggung jawab lah kami.”

Alasan membawa FORE masuk ke bursa

Potret pengunjung di Fore Coffee (fore.coffee)

Saham FORE menyentuh auto reject atas (ARA) tiga hari berturut-turut setelah resmi dicatat di BEI. Secara menyeluruh, harganya sudah menguat 50,79 persen dari harga IPO per Kamis (24/4/2025) pagi. Per Jumat (13/3/2026), FORE tercatat telah menguat 94,44 persen dalam perdagangan setahun terakhir. Keyakinan timnya mulai menunjukkan taji.

Melihat itu, apakah Willson dan tim menyesal karena hanya mematok harga median saat penawaran umum? Jawabannya, tidak.

Karena, tujuan utama IPO FORE bukanlah material. Fokus utamanya adalah menjadi angin segar. Terutama selepas pasar dihebohkan oleh pemberitaan mengenai kasus fraud eFishery sejak akhir 2024.

Seperti yang sempat Fortune Indonesia ulas pada edisi Maret 2025, semua mata tertuju pada startup perikanan itu dan pendirinya. Sampai mungkin mengaburkan sejumlah kabar baik ihwal ekonomi digital di Indonesia. Dampaknya bahkan terasa hingga ke luar negeri, memburamkan pandangan global terhadap negeri ini.

“Keputusan investasi terkadang tidak di regional, tapi di Amerika atau Eropa. Mereka bacanya apa? Berita utama. Kalau yang dibaca jelek terus, walau kantornya di Jakarta atau Singapura, dia cuma akan bilang, ‘yang saya baca jelek, lo. Yakin ini bagus?’,” katanya. “IPO FORE itu bukan hanya untuk ekspansi, tapi juga untuk buktikan, di Indonesia khususnya, bahwa ada perusahaan lokal yang lumayan bagus.”

Pertanyaan selanjutnya, jika tidak ada gonjang-ganjing dari eFishery, apakah Fore Coffee akan tetap IPO tahun ini? Beberapa kenalannya juga mempertanyakan hal serupa. Willson bilang, apa pun kondisinya, itu akan tetap dieksekusi.

Jika menyangkut dana, nilai dari putaran pendanaan lanjutan tentu akan jauh lebih besar. Bahkan, ada pula yang secara tak langsung menyarankannya menjual Fore Coffee saja. Toh, EV akan langsung beroleh keuntungan bila melakukan itu. Tanpa harus mengurus proses panjang menjadi perusahaan publik.

“Kalau saya buka pendanaan lagi, atau menjualnya, itu hanya akan jadi kesepakatan lain. Jika IPO, itu akan jadi cerita baru. Bagaimana kami menempatkan perbaikan di ekosistem,” ujarnya. “Fore itu kalau mau saya jual, pasti bisa. Karena bagus, profit. Siapa yang beli pasti langsung menguasai pasar [kopi] kelas menengah Indonesia. Tapi, kami enggak mau itu.”

Mengawal FORE sampai resmi melantai di BEI tentunya menjadi pengalaman tersendiri bagi EV. Sebab, meski turut terlibat dalam IPO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), mereka belum pernah benar-benar terjun langsung mengurusi setiap tahap prosesnya seperti FORE.

Sebab, lain dengan GOTO yang memiliki banyak modal ventura besar di luar EV, FORE adalah perusahaan inkubasi EV. Artinya, tumbuh-kembangnya sangat diperhatikan oleh EV sejak awal sampai sekarang. Otomatis, memastikan semua tahap IPO berjalan baik menjadi tugas EV.

Willson menilai, proses IPO tak serumit yang dibayangkannya. Malahan, setelah berjibaku menyiapkan semua sejak kuartal akhir 2024, ia menganggap IPO dapat menjadi salah satu jalan terbaik untuk memitigasi risiko seperti fraud. Tentunya, setelah perusahaan sudah siap.

Sebab, selama proses due diligence, pihak BEI disebut betul-betul meninjau dengan terperinci. “Ada audit pihak ketiga, BEI sampai ke Sulawesi juga untuk melihat outlet kami. Jadi saya rasa, semua perusahaan, begitu sudah mulai kelihatan bertumbuh dan mulai ada profit, IPO kan saja. Karena prosesnya itu erat dengan compliance, transparansi,” ujarnya. “Jangan privat terlalu lama.”

Kendati, setelah IPO, manajemen dan pemegang saham lama mesti siap untuk turut beririsan dengan investor publik. Yang bisa saja, lebih vokal dan sering memberi kritik dan saran secara terbuka. Misalnya, di media massa ataupun media sosial (medsos). Sebuah hal yang tak terelakkan di zaman ‘melek digital’ ini. Belum lama setelah IPO FORE, sudah ada sejumlah isu yang melingkupi perusahaan di dunia maya.

Tapi, Willson dan tim enggan memusingkan kabar-kabar itu. Yang terpenting adalah membuktikan kinerja dan data selepas IPO, serta melanjutkan momentum pertumbuhan sebelumnya.

Editorial Team