Jakarta, FORTUNE - Popularitas layanan buy now, pay later (BNPL) di Indonesia ternyata menyimpan risiko signifikan bagi kesehatan finansial generasi muda. Riset terbaru menunjukkan 52 persen pengguna dari kalangan Milenial dan Gen Z percaya BNPL mendorong pengeluaran berlebih (overspending).
BNPL merupakan metode pembayaran yang memungkinkan konsumen membeli barang atau jasa saat ini dan membayarnya pada kemudian hari, baik secara penuh atau dalam bentuk cicilan tanpa harus menggunakan kartu kredit fisik. Risiko di balik fleksibilitas pembayaran tetap muncul, yang memungkinkan pengeluaran “tidak terlihat”.
Meski menjadi salah satu metode pembayaran populer, generasi muda di Indonesia mulai mempertanyakan konsekuensi jangka panjang dari penggunaan BNPL. Menurut riset Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026, hanya 26 persen dari responden Gen Z yang menyampaikan kekhawatirannya atas risiko dari BNPL, dibandingkan 34 persen dari Milenial.
“Sementara cara pembiayaan yang lebih fleksibel tersebut semakin banyak digunakan, pemahaman kritis atas risiko terutama di kalangan Gen Z masih relatif rendah mengingat jangkauan platform yang semakin luas,” demikian riset tersebut, dikutip Kamis (27/8).
Bagi kebanyakan pengguna Gen Z, BNPL menjadi alat penyelamat di tengah volatilitas ekonomi.
Sejumlah platform seperti Shopee PayLater, GoPayLater, Kredivo dan Akulaku menawarkan kemudahan meminjam dengan minimal dana. Dengan kemudahan tersebut, muncul berbagai persoalan seperti repayment terms, biaya telat bayar (late fees), dan biaya tersembunyi (hidden fees) yang kerap kali tidak diberitahukan.
“Hal ini menciptakan lanskap di mana biaya utang tidak selalu terlihat, namun dapat dirasakan,” katanya.
Menurut riset IMGR, 41 persen kehilangan jejak atas komitmen BNPL. 39 persen menggunakan BNPL untuk pembelian tidak penting, serta 52 persen percaya BNPL meningkatkan overspending.
Sejumlah angka tersebut membuktikan norma keuangan baru, dengan tawaran kemudahan menutupi risiko, dan pengeluaran tidak terlihat. Seiring pertambahan jumlah platform BNPL, bukan saja kemudahan yang mengemuka, tapi tantangan atas kesiapan finansial.
Demi memastikan kemudahan tidak menjadi jebakan, Indonesia perlu meningkatkan literasi keuangan digital, khususnya pada utang jangka pendek.
“Tanpa perlindungan yang jelas, garis antara pemberdayaan finansial dan erosi finansial akan menjadi lebih tipis,” demikian riset tersebut.
Jajak pendapat ini digelar oleh IDN Research Institute pada Februari hingga April 2025 dengan metode campuran yang melibatkan 11.500 responden di 12 kota besar. Melalui survei tersebut, IDN menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, serta nilai yang mendasari tindakan mereka.