Jakarta, FORTUNE - Kepercayaan CEO terhadap prospek pendapatan perusahaan mereka turun ke level terendah dalam lima tahun terakhir. Ini terjadi di saat para pemimpin bisnis menghadapi imbal hasil AI yang tidak merata, meningkatnya risiko geopolitik, serta ancaman siber yang kian intensif.
Berdasarkan PwC Global CEO Survey ke-29 yang melibatkan 4.454 CEO di 95 negara dan wilayah, hanya 30 persen CEO yang menyatakan percaya diri terhadap pertumbuhan pendapatan dalam 12 bulan ke depan.
Namun, angka ini turun dari 38 persen pada 2025 dan 56 persen pada 2022. Temuan tersebut menunjukkan bahwa di tengah lingkungan bisnis yang semakin kompleks—dipengaruhi perubahan teknologi yang cepat, ketidakpastian geopolitik, dan tekanan ekonomi—banyak perusahaan belum mampu menerjemahkan investasi menjadi kinerja keuangan yang konsisten.
Para CEO memiliki pertanyaan besar: apakah perusahaan mereka bertransformasi cukup cepat mengikuti perubahan teknologi, termasuk AI. Survei menunjukkan, 42 persen CEO menganggap hal ini sebagai kekhawatiran utama, jauh melampaui kekhawatiran terkait kemampuan inovasi maupun keberlanjutan jangka menengah hingga panjang (masing-masing 29 persen).
Meski eksperimen AI dilakukan secara luas, hanya 12 persen CEO yang menyatakan AI telah memberikan manfaat nyata baik dari sisi biaya maupun pendapatan. Secara keseluruhan, 33 persen melaporkan manfaat pada salah satu aspek tersebut, sementara 56 persen belum melihat dampak finansial yang signifikan.
Survei ini menunjukkan adanya kesenjangan yang kian lebar antara perusahaan yang sekadar menguji coba AI dan mereka yang telah menerapkannya secara masif. Sedangkan, CEO yang melaporkan manfaat biaya dan pendapatan dua hingga tiga kali lebih mungkin menyatakan AI telah terintegrasi luas dalam produk dan layanan, penciptaan permintaan, serta pengambilan keputusan strategis.
Perusahaan dengan kerangka Responsible AI dan infrastruktur teknologi yang memungkinkan integrasi lintas perusahaan tercatat tiga kali lebih mungkin meraih imbal hasil finansial yang bermanfaat.
Analisis terpisah PwC menunjukkan perusahaan yang menerapkan AI secara luas pada produk, layanan, dan pengalaman pelanggan mencatat margin laba hampir empat poin persentase lebih tinggi dibandingkan yang tidak.
“2026 akan menjadi tahun penentu bagi AI. Sebagian kecil perusahaan sudah mampu mengubah AI menjadi hasil finansial yang terukur, sementara banyak lainnya masih terjebak pada tahap uji coba. Kesenjangan ini mulai terlihat pada tingkat kepercayaan dan daya saing—dan akan semakin melebar bagi mereka yang tidak segera bertindak.” kata Ketua Global PwC, Mohamed Kande dalam keterangannya, Selasa (20/1)/
