Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
All New Honda Civic Type R /Dok. honda-indonesia.com
All New Honda Civic Type R /Dok. honda-indonesia.com

Intinya sih...

  • Honda Motor melaporkan penurunan laba 61% pada kuartal ketiga karena tarif AS dan biaya restrukturisasi bisnis kendaraan listrik.

  • Permintaan teknologi mobil listrik melemah di Amerika Serikat, mempengaruhi kinerja Honda dan produsen lainnya.

  • Honda mencatat laba operasional turun 61,4%, tetapi mempertahankan perkiraan laba operasinya untuk tahun yang berakhir Maret 2026 sebesar 550 miliar yen.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Produsen otomotif asal Jepang, Honda Motor melaporkan penurunan laba sebesar 61 persen pada kuartal ketiga. Pengena tarif AS dan biaya restrukturisasi pada bisnis kendaraan listriknya menjadi pukulan berat bagi bisnis perusahaan yang baru mencatat kerugian EV karena permintaan teknologi tersebut melemah.

Dikutip dari Reuters, kinerja suram Honda ini muncul tak lama setelah produsen mobil global Ford dan Stellantis mengisyaratkan penurunan nilai aset besar-besaran pada bisnis mobil listrik perusahaan. Permintaan akan teknologi tersebut telah melandai di pasar seperti Amerika Serikat, di mana pelanggan semakin beralih ke model hibrida bensin-listrik yang dipelopori oleh Toyota.

Meskipun Honda bukanlah perusahaan raksasa di bidang kendaraan listrik (EV), perusahaan tersebut mengatakan bisnis otomotif mengalami kerugian selama sembilan bulan yang berakhir pada Desember, karena biaya sekali pakai yang terkait dengan bisnis EV-nya, termasuk penurunan nilai aset, di samping dampak tarif.

Produsen mobil terbesar kedua di Jepang ini mencatat laba operasional sebesar 153,4 miliar yen (setraa US$987,07 juta) untuk periode Oktober-Desember, turun 61,4 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya dan meleset dari perkiraan rata-rata 174,5 miliar yen dari sembilan analis yang disurvei oleh LSEG.

Wakil Presiden Eksekutif Noriya Kaihara dalam sebuah pertemuan, mengatakan “Honda perlu meningkatkan daya saing bisnisnya melalui restrukturisasi fundamental strateginya, karena menghadapi persaingan global yang semakin ketat, termasuk dari munculnya produsen mobil baru.”

Di Tiongkok, kendaraan energi terbarukan (listrik) menyumbang lebih dari setengah pasar tahun lalu, sebuah kategori yang mencakup beberapa hibrida bersama dengan EV. Di pasar tersebut, Honda tertinggal dari pemain lokal baik dalam hal harga maupun perangkat lunak, kata Kaihara.

Sebaliknya, Honda mengatakan bisnis sepeda motornya terus menunjukkan kinerja yang kuat, dengan penjualan global yang dipimpin oleh India dan Brasil, membantu mengimbangi kelemahan dalam operasi otomotif..

Perusahaan mempertahankan perkiraan laba operasinya untuk tahun yang berakhir Maret 2026 sebesar 550 miliar yen.

Editorial Team

EditorEkarina .