Tertekan Persaingan, Netflix PHK 5% Karyawan

Netflix berencana melakukan PHK terhadap sekitar 5 persen karyawannya sebagai bagian dari restrukturisasi di tengah kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan.
Persaingan dengan YouTube dan tren keterlibatan pengguna menjadi perhatian, sementara Netflix memperluas bisnis ke berbagai segmen baru.
Netflix membatasi tawaran akuisisi WBD, sedangkan sahamnya terkoreksi 42 persen dalam setahun terakhir.
Jakarta, FORTUNE — Perusahaan layanan streaming, Netflix Inc bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 5 persen karyawannya sebagai bagian dari restrukturisasi perusahaan. Kebijakan tersebut rencananya diumumkan paling cepat pekan ini di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan bisnis perusahaan.
Mengutip laporan Puck, Senin (12/10) belum diketahui divisi mana saja yang akan terdampak kebijakan pengurangan karyawan tersebut. Juru bicara Netflix menolak memberikan komentar terkait rencana itu.
Hingga akhir 2025, Netflix memiliki sekitar 16.000 karyawan tetap. Perusahaan terakhir kali melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala besar pada 2022, meski sempat memangkas sejumlah kecil karyawan di tim produk pada Februari 2026.
Dilansir dari The Wrap, rencana restrukturisasi ini muncul setelah sejumlah analis menyoroti tren keterlibatan pengguna yang dinilai mengkhawatirkan serta meningkatnya persaingan dari YouTube.
Pada September 2026, HSBC dan Wells Fargo menurunkan rekomendasi saham Netflix di tengah kekhawatiran tersebut.
Data Nielsen melalui laporan Gauge menunjukkan Netflix menguasai 7,8 oersen pangsa penonton televisi pada Juli 2026. Angka itu masih berada di bawah YouTube yang mencapai 14,2 persen.
Untuk mendorong pertumbuhan bisnis, Netflix mulai memperluas jangkauan ke sejumlah segmen baru, termasuk podcast, acara langsung, olahraga, video vertikal, dan gim. Perusahaan juga berupaya menarik kreator YouTube ke platformnya.
Selain itu, Netflix memperluas distribusi konten internasional melalui kemitraan dengan stasiun televisi Prancis TF1. Perusahaan juga menjajaki penambahan kanal siaran langsung dan paket bundel dengan layanan streaming lain, termasuk Peacock.
Netflix dikabarkan sempat berencana mengakuisisi aset studio dan layanan streaming Warner Bros. Discovery (WBD) melalui kesepakatan senilai US$83 miliar pada Desember 2025. Namun, transaksi tersebut batal setelah Netflix memutuskan tidak sepadan dengan tawaran pesaingnya, Paramouny Skydance senilai US$110 miliar.
Paramount Skydance kemudian resmi menyelesaikan akuisisi WBD pada Selasa (6/10), menurut laporan tersebut.
Dalam konferensi Bloomberg Screentime 2026, Co-CEO Netflix Ted Sarandos mengakui bahwa pertumbuhan perusahaan belum sesuai dengan harapannya.
“Kami tidak tumbuh secepat yang saya inginkan,” ujar Sarandos, seraya menambahkan bahwa perusahaan tengah berupaya mempercepat pertumbuhan tersebut.
Sarandos menyatakan tidak menyesali keputusan Netflix mengajukan penawaran untuk mengakuisisi WBD. Pasalnya, rencana transaksi itu memiliki dasar yang kuat, tetapi perusahaan menetapkan batas harga untuk menjaga potensi penciptaan nilai bagi pemegang saham.
Dia menilai penawaran Netflix telah mencapai batas harga tertinggi yang masih memungkinkan perusahaan memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Tawaran yang lebih tinggi, menurut dia, berisiko mengurangi nilai ekonomi transaksi tersebut.
Terkait dampak persaingan dari merger Paramount dan WBD, Sarandos mengatakan masih terlalu dini untuk memastikan bagaimana penggabungan kedua perusahaan akan memengaruhi peta persaingan industri media.
Ia menegaskan bahwa Netflix tidak berfokus pada bisnis konten buatan pengguna (user-generated content), melainkan pada konten yang diproduksi secara profesional.
Meski demikian, Netflix membuka peluang bekerja sama dengan kreator di platform lain apabila konten mereka dinilai memiliki kualitas produksi yang mendekati program profesional dan dapat dimonetisasi secara lebih baik.
Saham Netflix ditutup pada US$70,96 per saham pada Jumat pagi waktu setempat. Berdasarkan laporan tersebut, saham perusahaan terkoreksi 42 persen dalam setahun terakhir, turun 22 persen sejak awal 2026, dan melemah 30 persen dalam enam bulan terakhir.



















