Jakarta, FORTUNE - Perusahaan energi terbaruka, PT Xurya Daya Indonesia optimistis pasar jasa pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) memiliki ruang pertumbuhan yang besar.
Philip Effendy, Vice President Operations, Xurya Daya Indonesia mengungkapkan nilai pasar sektor EPC saat ini diperkirakan mencapai sekitar US$1,4 miliar atau setara Rp24,3 triliun. Dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 76 persen, menurutnya market size EPC mampu mencapai US$7,9 miliar setara dengan Rp133,5 triliun pada 2030.
"Hal ini mencerminkan besarnya potensi teknis akan kebutuhan mitra EPC yang berkualitas dan menjadi lokomotif penggerak pertumbuhan industri PLTS Atas dan Non-Atap," katanya dikutip dari siaran pers, Jumat (27/3).
Sejak 2018 hingga 2025 kapasitas terpasang PLTS Atap di Indonesia terus meningkat, dari 86 MW pada 2021 menjadi 773 MW1. Sementara itu, kapasitas terpasang PLTS Non-Atap tumbuh dari 25,5 MW pada 2021 menjadi 1019,5 MW2 pada 2025. Peningkatan itu pun dinilai mencerminkan semakin luasnya adopsi energi surya, sekaligus menegaskan kontribusi penting EPC dalam merealisasikan proyek-proyek yang berkualitas dan berkelanjutan.
Secara umum, EPC terdiri dari tiga pilar utama. Pertama, engineering yang berfokus pada perencanaan teknis, desain sistem yang efisien, serta pemenuhan standar keselamatan. Kedua, procurement yang berperan dalam pengadaan material secara tepat waktu dengan mempertimbangkan kualitas dan efisiensi biaya. Ketiga, construction yang menjadi tahap implementasi pembangunan sistem energi surya dengan menitikberatkan pada aspek keselamatan, kualitas, dan ketepatan waktu.
Hingga saat ini, Xurya telah menangani lebih dari 300 proyek dengan total kapasitas melampaui 200 MW. Pencapaian tersebut didsazxukung oleh kolaborasi erat dengan mitra EPC lokal yang berperan sebagai penghubung antara tahap perencanaan dan pelaksanaan proyek. Keberadaan mereka dinilai krusial dalam memastikan inovasi teknologi dapat diimplementasikan secara nyata dan berkelanjutan di lapangan.
