Jakarta, FORTUNE– Program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) besutan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) resmi menginjak usia sepuluh tahun sejak pertama kali digulirkan pada 2015. Dalam rentang waktu tersebut, biduk pemberdayaan ini telah merangkul 16,1 juta nasabah dari kalangan masyarakat prasejahtera, dengan perempuan sebagai poros utamanya.
Ihwal lahirnya program ini bukan tanpa alasan. Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, menceritakan bahwa Mekaar dirancang untuk menyentuh ceruk masyarakat di pelosok yang selama ini terabaikan oleh sistem perbankan formal. Lebih dari sekadar akses modal, misi ini mengusung semangat untuk memutus rantai lintah darat atau rentenir yang kerap menjerat ekonomi pedesaan.
“Kami memulai program PNM dengan cita-cita sederhana, mentransformasi gerakan dari harapan menjadi kemandirian. Syukur kalau setelah mandiri mereka bisa bangkit dan naik kelas,” kata Arief dalam sebuah acara Iftar PNM Bersama Media di Jakarta.
Langkah PNM kian mantap setelah bersinergi dalam Holding BUMN Ultra Mikro (UMi) bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Pegadaian. Walhasil, dalam empat tahun terakhir, tercatat sebanyak 2,4 juta nasabah telah dinyatakan mandiri dan "naik kelas" secara ekonomi.
“Ada 2,4 juta nasabah yang naik kelas menjadi nasabah BRI dan Pegadaian sebagai wujud pencapaian KPI kami dalam rangka pembentukan Holding Ultra Mikro,” kata Arief.
Hingga saat ini, taring operasional PNM telah menembus 60.260 desa atau kelurahan—mencakup sekitar 71 persen dari total desa di seluruh Tanah Air. Jangkauan luas ini melayani kebutuhan 943.000 kelompok nasabah. Misi sosial ini berjalan selaras dengan performa keuangan yang moncer.
Sepanjang semester I-2025, PNM membukukan laba bersih Rp885,91 miliar, atau naik 6,7 persen (YoY). Pundi-pundi keuntungan ini disokong oleh pendapatan bunga dan lini bisnis syariah yang menyentuh angka Rp7,61 triliun. Tak hanya itu, ekuitas perusahaan pun turut menggemuk menjadi Rp11,46 triliun per 30 Juni 2025.
