Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
7 Cara Menjaga Nilai Aset Saat Inflasi Tinggi
ilustrasi inflasi (unsplash.com/Jp Valery)

  • Inflasi tinggi menurunkan daya beli dan nilai riil aset, sehingga diperlukan strategi pengelolaan yang adaptif agar portofolio tetap stabil.
  • Diversifikasi menjadi kunci utama dengan menggabungkan saham kuat, emas, properti, obligasi lindung inflasi, serta aset safe haven untuk menjaga nilai investasi.
  • Evaluasi dan rebalancing rutin membantu menyesuaikan alokasi aset sesuai profil risiko, menjaga konsistensi strategi, dan melindungi daya beli di tengah volatilitas pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Inflasi yang meningkat berdampak langsung pada penurunan daya beli dan nilai riil aset. Inflasi tidak hanya menaikkan harga barang dan jasa, tetapi juga membuat uang dengan nominal yang sama memiliki kemampuan beli lebih rendah dibanding sebelumnya.

Kondisi ini mendorong kebutuhan strategi pengelolaan aset yang lebih adaptif, terutama ketika sebagian dana masih disimpan dalam bentuk kas atau instrumen berimbal hasil rendah.

Dalam konteks tersebut, berbagai lembaga keuangan menekankan pentingnya pendekatan diversifikasi.

Fidelity menyatakan bahwa tidak ada satu instrumen yang mampu menjadi lindung nilai sempurna terhadap inflasi sekaligus memberikan pertumbuhan optimal. Oleh karena itu, kombinasi beberapa aset menjadi pendekatan yang digunakan untuk menjaga stabilitas nilai portofolio.

Cara menjaga nilai aset saat inflasi

Berikut sejumlah strategi yang digunakan untuk mempertahankan nilai aset di tengah tekanan inflasi:

1. Diversifikasi portofolio ke berbagai aset

Pendekatan utama dalam menjaga nilai aset adalah menyebar investasi ke beberapa instrumen. Strategi ini dilakukan karena setiap aset memiliki respons berbeda terhadap inflasi.

Diversifikasi disarankan karena tiap aset cenderung bekerja optimal dalam kondisi ekonomi yang berbeda. Dengan kombinasi yang tepat, risiko penurunan nilai dapat ditekan.

2. Memanfaatkan saham dengan fundamental kuat

Saham tetap menjadi salah satu instrumen yang digunakan dalam menghadapi inflasi. Perusahaan dengan daya tawar tinggi atau pricing power dapat menyesuaikan harga jual saat biaya meningkat.

Kondisi ini membuat saham tertentu tetap relevan dalam menjaga nilai aset jangka panjang. Namun, perusahaan dengan margin tipis atau utang tinggi cenderung lebih rentan terhadap tekanan inflasi.

3. Mengalokasikan dana ke emas dan aset riil

Emas sering digunakan sebagai aset lindung nilai saat terjadi ketidakpastian ekonomi. Instrumen ini dikenal sebagai store of value karena nilainya tidak bergantung pada kebijakan moneter.

Selain emas, aset riil seperti properti juga digunakan karena memiliki keterkaitan langsung dengan nilai ekonomi riil. Real estate dan komoditas dapat membantu meredam risiko inflasi dalam portofolio terdiversifikasi.

4. Mempertimbangkan obligasi lindung inflasi

Instrumen seperti Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) menjadi salah satu opsi bagi investor dengan eksposur dolar AS.

U.S. Treasury menjelaskan bahwa pokok TIPS menyesuaikan dengan inflasi, sehingga nilai investasinya ikut meningkat. Meski demikian, instrumen ini tetap memiliki risiko, terutama jika inflasi aktual lebih rendah dari ekspektasi pasar.

5. Menggunakan aset safe haven untuk stabilitas

Aset safe haven seperti emas, obligasi pemerintah, dan mata uang kuat memiliki korelasi rendah atau negatif terhadap saham. Investopedia mendefinisikan aset ini sebagai instrumen yang cenderung mempertahankan nilai saat pasar mengalami tekanan.

Data Research in International Business and Finance (2022) menunjukkan bahwa kombinasi aset safe haven mampu meningkatkan kinerja portofolio hingga 21,3 sampai 83 persen berdasarkan rasio Sharpe dan Calmar.

6. Menjaga porsi kas secara proporsional

Kas tetap diperlukan untuk kebutuhan likuiditas, namun porsi yang terlalu besar dapat merugikan saat inflasi tinggi.

Menyimpan terlalu banyak uang tunai dapat menyebabkan penurunan daya beli secara signifikan.Oleh karena itu, kas biasanya hanya dialokasikan sebagai dana darurat.

7. Melakukan evaluasi dan rebalancing berkala

Perubahan harga aset dapat menggeser komposisi portofolio dari rencana awal. Rebalancing dilakukan untuk mengembalikan alokasi sesuai profil risiko dan tujuan investasi.

Langkah ini juga membantu mengendalikan risiko serta menjaga konsistensi strategi dalam jangka panjang.

Peran strategi dalam menjaga daya beli aset

Inflasi berdampak langsung pada seluruh jenis aset, termasuk instrumen yang dianggap aman. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan bukan berfokus pada satu aset terbaik, melainkan kombinasi yang saling melengkapi. Strategi ini memungkinkan portofolio tetap bertahan ketika satu jenis aset mengalami tekanan.

Selain itu, volatilitas pasar yang tidak dapat dihindari membuat aset safe haven menjadi bagian penting dalam pengelolaan risiko. Instrumen dengan korelasi rendah terhadap saham membantu menekan fluktuasi nilai portofolio, terutama saat terjadi krisis atau ketidakpastian ekonomi global.

FAQ seputar cara menjaga nilai aset saat inflasi

Apa dampak inflasi terhadap aset?

Inflasi menurunkan daya beli sehingga nilai riil aset, terutama kas, ikut menyusut.

Aset apa yang sering digunakan saat inflasi tinggi?

Saham, emas, properti, komoditas, dan obligasi lindung inflasi menjadi pilihan utama.

Apakah menyimpan uang tunai aman saat inflasi?

Nominalnya aman, tetapi daya belinya turun jika imbal hasil lebih rendah dari inflasi.

Aset apa yang kamu punya?

Saat ini, kamu menyimpan aset terbesar di mana?

Tabungan/cash
A*** has voted
B*** has voted
C**** has voted
EmasSahamReksadanaPropertiKripto

Editorial Team