Jakarta, FORTUNE - Penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) mencatat penyaluran pinjaman produktif Rp3 triliun sepanjang kuartal pertama 2025.
Chief Compliance and Sustainability Officer PT Amartha Mikro Fintek, Aria Widyanto, menyampaikan bahwa portfolio piutang perusahaan seluruhnya dialokasikan untuk sektor produktif untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
"Pada kuartal satu 2026 itu, per bulan itu kami bisa sekitar Rp1 triliun. Sehingga, dalam tiga bulan rata-rata totalnya kurang lebih Rp3 triliun," katanya di Jakarta, Rabu (20/5).
Aria menilai prospek pembiayaan produktif masih cukup kuat seiring aktivitas konsumsi masyarakat yang tetap berjalan. Oleh karenanya segmen usaha mikro seperti pedagang pasar, warung, dan industri rumahan masih bertahan karena bergerak di sektor kebutuhan harian masyarakat.
Meski demikian, Amartha tetap mewaspadai pelemahan pertumbuhan pinjaman akibat penurunan daya beli masyarakat imbas kenaikan harga barang impor dan penurunan konsumsi. Oleh karenanya, Amartha akan lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas pertumbuhan kredit. Amartha menargetkan pertumbuhan kinerja sebesar 20 persen secara tahunan hingga akhir 2026.
Untuk menjaga kualitas kredit, Amartha memperkuat fungsi tim lapangan guna meningkatkan pengawasan dan pendampingan terhadap nasabah. Saat ini Amartha telah menyalurkan kepada sekitar 3,6 juta pelaku usaha mikro.
"Adanya literasi digital ini yang kami bantu fasilitasi mereka akan punya kesempatan yang lebih, misalnya yang tadinya jualannya hanya di warung sekarang bisa punya kesempatan untuk bisa jualan online," ujarnya.
Hingga saat ini Amartha mencatat rasio Tingkat Keberhasilan Bayar dalam 90 hari (TKB90) sebesar 95,61 persen. TKB90 merupakan indikator utama di industri fintech peer-to-peer lending yang mencerminkan tingkat keberhasilan peminjam dalam melunasi kewajibannya hingga maksimal 90 hari setelah jatuh tempo.
