Jakarta, FORTUNE - Bank milik pengusaha Chairul Tanjung, PT Bank Mega Tbk membukukan kinerja yang solid sepanjang 2025 di tengah kondisi industri perbankan yang masih menghadapi tekanan suku bunga dan persaingan likuiditas.
Pada tahun lalu, Bank Mega menctat laba bersih Rp3,36 triliun atau meningkat 28 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp2,63 triliun.
Perolehan laba bersih tersebut disebabkan oleh kenaikan fee based income yang mencapai 54 persen menjadi Rp2,79 triliun, dari posisi 2024 yang sebesar Rp1,82 triliun.
Corporate Secretary Bank Mega Christiana M. Danamik menjelaskan, sepanjang 2025 perseroan menjalankan langkah efisiensi yang disiplin sehingga mampu memperbaiki fundamental bisnis.
"Pencapaian ini merupakan suatu hal yang disyukuri oleh Bank Mega, karena mampu diraih di situasi kondisi perekonomian relatif cukup menantang," kata Christiana dalam keterangan resmi, Rabu (11/2).
Dari sisi intermediasi, Bank Mega menyalurkan kredit Rp140,83 triliun. Angka tersebut meningkat 4 persen secara tahunan dari Rp134,92 triliun pada 2024. Adapun, komposisi terbesar total kredit Bank Mega berasal dari sektor korporasi sebesar Rp46,30 triliun atau memiliki share sebesar 69 persen.
Sementara dana pihak ketiga yang dihimpun pada 2025 tercatat sebanyak Rp104,13 triliun, tumbuh 14 persen secara tahunan. Komposisi DPK ini masih didominasi oleh Deposito, namun saldo CASA meningkat 2 persen menjadi Rp28,14 triliun dari Rp27,57 triliun pada periode sebelumnya.
Menurutnya, Bank Mega terus berupaya menurunkan cost of fund melakukan upaya penurunan cost of fund, yang berhasil dijaga pada level kompetitif hingga akhir 2025, meskipun tekanan likuiditas di industri perbankan masih berlangsung.
Kinerja rasio keuangan tercatat terjaga, dari sisi permodalan alias Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 30,49 persen, jauh di atas ketentuan regulator. Sementara return on assets (ROA) tercatat sebesar 3,10 persen, dan return on equity (ROE) mencapai 15,54 persen.
Bank Mega membukukan total asset sebesar Rp140,83 triliun, naik tipis empat persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp134,92 triliun.
