Jakarta, FORTUNE - Bisnis emas terus menunjukan tren positif, terutama di industri perusahaan pembiayaan atau multifinanace.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (KE PVML) OJK, Agusman mengatakan, pada Maret 2026, nominal pembiayaan emas tercatat sebesar Rp44,19 miliar.
Menurutnya segmen ini masih berpotensi untuk terus bertumbuh, misalnya para perusahaan pembiayaan dapat melakukan perluasan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan penguatan kerja sama dengan mitra strategis, sekaligus menerapkan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta pelindungan konsumen.
Secara keseluruhan, industri multifinance mencatatkan piutang pembiayaan mencapai Rp514,09 triliun atau tumbuh sebesar 0,61 persen yoy pada Maret 2026.
Pembiayaan ini masih didominasi segmen multiguna yang tumbuh 1,32 persen secara tahunan menjadi Rp258,45 triliun, dengan porsi terhadap portfolio piutang sebesar 50,27 persen. Kemudian diikuti modal kerja yang meningkat sebesar 6,15 persen yoy menjadi Rp54,87 triliun.
Sementara itu, profil risiko yang tercermin dari non performing financing (NPF) gross tercatat sebesar 2,83 persen dan NPF net sebesar 0,8 persen. Sementara gearing ratio PP tercatat sebesar 2,17 kali dan berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.
"Pelemahan rupiah juga dapat berdampak pada profil risiko perusahaan pembiayaan, terutama apabila memengaruhi kemampuan bayar debitur, sehingga perlu diantisipasi antara lain melalui penguatan monitoring dan mitigasi risiko," ujar Agusman dalam jawaban tertulis RDK, Jumat (8/5).
Meski demikian, industri perusahaan pembiayaan ini mampu mencetak laba per Maret 2026 tumbuh 6,68 persen yoy mencapai Rp5,99 tiliun.
OJK menegaslan pertumbuhan laba tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan dan perbaikan kualitas pembiayaan.
