Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Screenshot 2025-12-12 223809.jpg
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, melantik 29 Pemimpin Satuan Kerja Bank Indonesia. (Dok/Istimewa).

Intinya sih...

  • BI mencatat penyaluran kredit mencapai target 9,69% dengan undisbursed loan Rp2,43 triliun

  • Kredit investasi tumbuh 21,06%, diikuti kredit konsumsi 6,58%, dan kredit modal kerja 4,52%

  • Perry Warjiyo menegaskan pertumbuhan kredit diprediksi 8-12% pada 2026 dengan upaya memperbaiki struktur suku bunga

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Sepanjang 2025, Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit telah memenuhi target dengan pertumbuhan 9,69 persen. Kendati demikian, undisbursed loan atau fasilitas pinjaman yang belum digunakan, jumlahnya masih tinggi yakni mencapai Rp2,43 triliun atau sekitar 22,12 persen dari plafon kredit yang tersedia.

"Pelaku usaha perlu terus didorong untuk melakukan ekspansi usaha dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konfrensi pers RDG BI, Rabu (21/1).

Perry menjelaskan, perbankan masih punya kapasitas memadai untuk menyalurkan pembiayaan, tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 28,57 persen. Adapun, DPK sendiri tercatat terus meningkat 13,83 persen secara tahunan per Desember 2025. Kemudian likuiditas perbankan memadai, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) pada November 2025 tercatat tinggi sebesar 26,05 persen.

Pada penyaluran kredit , BI mencatat kredit investasi tercatat tumbuh paling tinggi yakni 21,06 persen, diikuti kredit konsumsu 6,58 persen, dan kredit modal kerja tumbuh 4,52 persen.

"Capaian tersebut sejalan dengan upaya BI untuk menurunkan suku bunga dan memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta realisasi program prioritas pemerintah," ujar Perry.

Ia mengungkapkan, minat penyaluran kredit perbankan terus membaik, tecermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang kian longgar. Namun, pada segmen kredit konsumsi dan UMKM, sejumlah persyaratannya masih ketat karena risiko kredit pada kedua segmen tersebut masih tinggi.

Secara keseluruhan, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan secara agregat terjaga di level 2,21 persen (bruto) dan 0,86 persen (neto) pada November 2025.

Pada 2026, BI memperkirakan pertumbuhan kredit pada kisaran 8-12 persen. Perry menegaskan, ke depan Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan tersebut.

Editorial Team

EditorEkarina .