Jakarta, FORTUNE – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menetapkan target ekspansif dalam penyaluran pembiayaan sektor properti tahun ini. Perseroan membidik penyaluran KUR Perumahan sebesar Rp8 triliun sepanjang 2026 guna mendukung program pemerintah dalam penyediaan 3 juta rumah.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan langkah ini merupakan wujud komitmen perseroan dalam memperkuat ekosistem perumahan yang inklusif dan berkelanjutan. Strategi tersebut akan ditopang oleh infrastruktur layanan BRI yang luas.
“Target tersebut didukung oleh kekuatan BRI yang memiliki basis nasabah besar serta jaringan layanan yang menjangkau hingga pelosok Indonesia, sehingga penyaluran KPR Subsidi dapat dilakukan secara lebih merata dan efektif, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah,” ujar Hery dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (10/2).
Dukungan BRI terhadap sektor perumahan rakyat menunjukkan tren pertumbuhan positif dari tahun ke tahun. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengungkap lonjakan volume unit rumah subsidi yang dibiayai oleh bank pelat merah tersebut.
Pada 2024, BRI membiayai sekitar 16.000 unit rumah subsidi. Angka ini meningkat menjadi 32.000 unit pada realisasi 2025.
“Tahun 2026, BRI menargetkan penyaluran hingga 60.000 unit rumah subsidi. Artinya, 60.000 rakyat akan dapat menikmati rumah,” kata Maruarar.
Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan Kementerian PKP, Sri Haryati, memaparkan sejak November 2025 hingga awal 2026, realisasi penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) secara nasional telah mencapai Rp3,54 triliun.
Dari angka tersebut, BRI berkontribusi hampir separuhnya, yakni sebesar Rp1,77 triliun, atau setara 49 persen dari total penyaluran KUR Perumahan nasional.
Optimisme BRI dalam mengejar target pembiayaan perumahan ini didukung oleh fundamental kinerja yang kuat. Hingga kuartal III-2025, fungsi intermediasi BRI berjalan optimal dengan total penyaluran kredit tumbuh 6,3 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp1.438,1 triliun.
Kualitas aset juga terjaga sehat dengan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada pada level 3,08 persen. Lebih lanjut, perseroan telah menyiapkan bantalan risiko yang memadai dengan NPL Coverage Ratio mencapai 183,1 persen.
