Jakarta, FORTUNE – Citigroup Inc. (Citi) memproyeksikan kemunculan era persaingan perebutan modal antara pemerintah dan sektor swasta di pasar global guna membiayai proyek infrastruktur, ketahanan energi, hingga kecerdasan buatan (AI). Kompetisi pendanaan ini merespons tren penahanan level suku bunga acuan bank sentral.
Pemerintah dari berbagai negara memerlukan pendanaan guna merealisasikan pembangunan infrastruktur, ketahanan energi, dan sistem pertahanan. Pada saat bersamaan, sektor swasta mengalokasikan modal pada pengembangan AI, pusat data, dan infrastruktur digital.
“Kami melihat ada perubahan mendasar di pasar modal global. Pemerintah melakukan peminjaman untuk mendanai pembangunan, infrastruktur, dan prioritas strategis, sementara sektor swasta berinvestasi besar pada AI dan infrastruktur digital,” kata Global Head of Public Sector Group Citi, Stephanie von Friedeburg, melalui keterangan resmi yang dikutip Senin (19/10).
Dinamika perebutan modal ini berlangsung di tengah proyeksi kebijakan higher-for-longer. Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026, bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve meningkatkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen sampai 4,00 persen.
Posisi suku bunga dolar AS tersebut memicu peralihan penerbitan instrumen utang dari entitas negara dan korporasi ke denominasi mata uang lokal, seperti RMB, AUD, HKD, serta SGD. Merespons peralihan ini, Citi menerapkan strategi pendanaan multi-currency untuk melengkapi opsi dolar AS, mereduksi beban biaya modal, dan mendiversifikasi sumber likuiditas bagi klien korporasi.
Dalam peta pembiayaan global, Sovereign Wealth Fund (SWF) di negara kawasan Teluk turut memfokuskan alokasi modal pada infrastruktur domestik dan teknologi AI. Investor dari kawasan ini memfasilitasi aliran dana antara pasar Barat dan Asia.
Manajemen cadangan devisa oleh bank sentral juga mengalami penyesuaian operasional, khususnya pada instrumen emas. Lonjakan harga emas mendorong otoritas moneter mengadopsi skema lindung nilai (hedging), pengelolaan likuiditas, dan pembiayaan beragun emas.
“Bank-bank sentral semakin giat mengevaluasi cara untuk mendiversifikasi cadangan devisa, mengelola risiko konsentrasi, dan memanfaatkan aset neraca secara lebih efisien. Ini termasuk mengeksplorasi strategi pembiayaan dan hedging berbasis emas sebagai bagian dari tujuan pengelolaan cadangan yang lebih luas,” kata Stephanie.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kewajiban utang dan biaya pinjaman menekan porsi keuangan publik di tengah target pembiayaan sektor energi, transportasi, dan telekomunikasi. Citi menawarkan skema debt-for-development dan pengelolaan kewajiban (liability management exercise/LME) sebagai alternatif solusi pembiayaan.
Ke depan, alokasi modal pada infrastruktur AI, ketahanan energi, dan manajemen utang pemerintah akan mendominasi arah kebijakan investasi global. Kemitraan pemerintah dan badan usaha (KPBU) berfungsi sebagai instrumen penggalangan likuiditas utama demi menjaga keberlanjutan ekonomi.
