Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Di Topang Kredit Ke UMKM, Bank Sampoerna Raih Laba Bersih Rp8,9 Miliar
Logo Bank Sampoerna/Dok Bank Sampoerna
  • Bank Sampoerna mencatat laba bersih Rp8,9 miliar pada kuartal I 2026, naik 68 persen dari tahun sebelumnya berkat penyaluran kredit UMKM senilai Rp11 triliun atau 59 persen total kredit.
  • Dana pihak ketiga mencapai Rp15 triliun dengan pertumbuhan CASA 29,6 persen year-on-year, sementara rasio BOPO membaik ke 96,33 persen dan NPL Net terjaga di level 2,70 persen.
  • Melalui strategi digital dan kolaborasi dengan lebih dari 50 mitra fintech serta lembaga keuangan, Bank Sampoerna mencatat 495 juta transaksi senilai Rp98 triliun sepanjang kuartal pertama 2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) membukukan laba bersih sebesar Rp8,9 miliar pada kuartal pertama 2026, meningkat 68 persen dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp5,3 miliar.

Direktur Finance & Business Planning PT Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra menjelaskan capaian ini masih ditopang oleh strategi perusahaan dalam mendukung penyaluran kredit kepada UMKM.

Pada periode tersebut, perusahaan mencatat pembiayaan UMKM yang disalurkan senilai Rp11 triliun. Jumlah ini berkontribusi 59 persen dari total kredit yang disalurkan Bank Sampoerna.

"Pertumbuhan bisnis tetap menjadi fokus Bank Sampoerna dalam menghadapi dinamika industri perbankan. Karena itu, efisiensi operasional dan pengelolaan risiko yang disiplin terus kami jaga untuk memperkuat fundamental Bank," ujar Henky dalam siaran pers, Jumat (22/5).

Henky menjelaskan bahwa laju penyaluran kredit yang kencang ditopang oleh dana pihak ketiga (DPK) yang solid. Per akhir Maret 2026, penghimpunan DPK mencapai Rp15 triliun.

Adapun, dana murah dalam bentuk giro dan tabungan berkontribusi signifikan dengan giro perusahaan mencapai Rp2,01 triliun, naik dari periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp1,34 triliun. Sementara tabungan meningkat menjadi Rp1,43 triliun dari Rp1,31 triliun. Secara keseluruhan CASA (current account & saving account) bertumbuh sekitar 29,6 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Bank Sampoerna juga menjaga rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) di level 96,33 persen pada akhir Maret 2026, membaik dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 97,26 persen.

"Melalui penerapan prinsip kehati-hatian, Bank Sampoern akan menjaga kualitas aset dengan pengelolaan risiko yang berkelanjutan terbukti oleh rasio kredit bermasalah bersih (Non- Performing Loan/NPL Net) yang tetap terjaga pada level 2,70 persen hingga akhir Maret 2026," ujar Henky.

Adapun, permodalan dan likuiditas perusahan juga berada di level sehat, tercermin dalam rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 30,03 persen dan rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) sebesar 73,27 persen, dengan total aset Bank mencapai Rp19,5 triliun.

Sementara pada kinerja layanan digital, Bank Sampoerna memperkuat fundamentalnya melalui Bank as a Service (BaaS), dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendorong akses keuangan masyarakat, mencakup penyediaan virtual account, pembayaran melalui QRIS, serta transfer dana host-to-host.

Sepanjang kuartal pertama 2026, layanan tersebut mencatat lebih dari 495 juta transaksi dengan total volume transaksi mencapai Rp98 triliun.

CEO Bank Sampoerna, Ali Yong mengungkapkan, penguatan ekosistem digital menjadi bagian dari strategi Bank Sampoerna dalam memperkuat kinerja fundamental perusahaan sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha.

"Pertumbuhan ini menjadi bukti kuat kolaborasi yang erat antara Bank Sampoerna dan lebih dari 50 fintech, perusahaan multifinance, koperasi, dan institusi keuangan lainnya," pungkas Ali.

Editorial Team

EditorEkarina .