Jakarta, FORTUNE — DBS Group Research memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan target sebelumnya yang dipatok pada level 5,3 persen.
Revisi tersebut diajukan menyusul peningkatan pada risiko kenaikan harga energi global dan kuatnya tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kendati demikian, fundamental ekonomi nasional sebenarnya masih menunjukkan taji pada awal tahun. Terbukti, pada kuartal I-2026, perekonomian Tanah Air mampu melaju pada 5,61 persen.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, menjelaskan motor penggerak perekonomian pada awal tahun ini masih mengandalkan konsumsi domestik. Selain itu, stimulus fiskal serta momentum Lebaran turut memberi napas segar bagi pertumbuhan.
"Proyeksi pertumbuhan setahun penuh tetap perlu disesuaikan menjadi 5,1 persen dari sebelumnya 5,3 persen guna mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global dan tekanan pada nilai tukar rupiah," ujar Radhika dalam keterangan pers DBS Group Research, dikutip Jumat (13/5).
Radhika menyebut gejolak geopolitik global masih akan menjadi tantangan utama bagi perekonomian domestik. Volatilitas nilai tukar, menurutnya, bakal sangat bergantung pada arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Fed) serta Bank Indonesia (BI).
Pasar keuangan dalam negeri pun kini tengah bersiap menghadapi ketidakpastian lain. Di antaranya adalah implementasi penilaian terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 1 Juni mendatang, serta arah kebijakan fiskal pemerintah.
“Kami memperkirakan sedikit lebih banyak pelemahan rupiah pada kuartal ini," kata Rao.
Menilik data pasar, mata uang rupiah ditutup menguat 0,17 persen (YtD) pada level Rp17.460 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (13/5). Rupiah sempat terjerembap ke level Rp17.500 per dolar AS pada awal Mei lalu.
Guna meredam liarnya pelemahan nilai tukar, Bank Indonesia telah mengambil langkah tegas. Hingga 4 Mei 2026, BI tercatat telah membeli Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp123,1 triliun. Langkah ini merupakan bentuk sinergi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas pasar.
Ke depan, DBS Research mengingatkan bahwa aktivitas perekonomian domestik masih akan dibayangi kenaikan harga minyak mentah dunia. Walhasil, pemerintah diharapkan tetap teguh menjaga disiplin fiskal nasional demi membentengi ekonomi dari fluktuasi pasar keuangan global.
