Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kredit UMKM Terkontraksi 0,6 Persen, BI: Kredit Modal Kerja Jadi Penyebab
ilustrasi pengrajin batik (unsplash.com/ Camille Bismonte)
  • Penyaluran kredit UMKM pada Februari 2026 mencapai Rp1.484 triliun.

  • Kontraksi terutama disebabkan oleh penurunan kredit modal kerja sebesar 4,9 persen (YoY).

  • Meski kredit UMKM melemah, likuiditas perekonomian tetap tumbuh.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Bank Indonesia (BI) melaporkan penyaluran kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp1.484 triliun atau masih mengalami kontraksi 0,6 persen (YoY) pada Februari 2026 setelah bulan sebelumnya juga masih minus 0,5 persen (YoY).

Bila dibedah dari sisi skala usaha, segmen mikro mencapai Rp659,5 triliun atau tumbuh tipis 0,004 persen (YoY). Untuk skala kecil, kondisinya mengalami kontraksi 1,5 persen menjadi Rp492,5 triliun. Kemudian, skala menengah juga terkontraksi 0,4 persen (YoY) menjadi Rp332,9 triliun. 

“Berdasarkan jenis penggunaan, kontraksi kredit UMKM pada Februari 2026 terutama bersumber dari kontraksi yang lebih dalam pada kredit modal kerja yang minus 4,9 persen (YoY),” demikian Analisis Perkembangan Uang Beredar BI yang dikutip di Jakarta, Selasa (31/3).

Di sisi lain, kredit investasi untuk UMKM masih menunjukkan pertumbuhan positif 9,6 persen (YoY) menjadi Rp492,1 triliun. Ini melanjutkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang sebesar 9,5 persen.

Meski kredit UMKM minus, bank sentral menyatakan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) masih tumbuh positif pada Februari 2026.

Posisi uang beredar pada Februari 2026 tercatat Rp10.089,9 triliun atau tumbuh sebesar 8,7 persen (YoY), setelah pada Januari 2026 tumbuh sebesar 10 persen (YoY). Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4 persen (YoY) dan uang kuasi sebesar 3,1 persen (YoY).

Perkembangan M2 pada Februari 2026 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit.

Tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 25,6 persen (YoY), meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang sebesar 22,6 persen (YoY).

Sementara itu, penyaluran kredit pada Februari 2026 tumbuh 8,9 persen (YoY), melanjutkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang sebesar 10,2 persen (YoY).

Editorial Team