Jakarta, FORTUNE – PT Bank BCA Syariah (BCA Syariah) menutup 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp212 miliar, tumbuh 15,4 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).
Capaian ini ditopang oleh dua mesin pertumbuhan utama, yakni ekspansi pembiayaan dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Presiden Direktur BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum, menilai kinerja ini merefleksikan kepercayaan pasar yang makin kuat.
“Pertumbuhan didukung dari pertumbuhan DPK dan penyalurannya dalam bentuk pembiayaan yang berkualitas. Ini mencerminkan semakin kuatnya minat dan kepercayaan masyarakat,” ujar Yuli dalam paparan kinerja di Jakarta, Selasa (10/2).
Sorotan utama dalam kinerja kali ini adalah lonjakan agresif pada segmen pembiayaan emas. Hingga akhir 2025, portofolio ini menembus angka Rp520 miliar.
Nilai tersebut melonjak tajam 238 persen (YoY) dibandingkan dengan posisi pada 2024 yang mencapai Rp154 miliar. Direktur BCA Syariah, Pranata, optimistis tren ini akan berlanjut seiring perubahan preferensi investasi masyarakat.
“Dari tren yang kami lihat, ketika harga emas naik, permintaan atau pencairan emas juga ikut naik,” kata Pranata.
Secara agregat, total pembiayaan BCA Syariah terakselerasi 23,1 persen (YoY) menjadi Rp13,2 triliun. Penyaluran dana difokuskan pada sektor produktif, baik segmen komersial maupun konsumer seperti KPR.
Kendati ekspansif, prinsip kehati-hatian tetap menjadi prioritas. Kualitas aset terjaga sehat dengan rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) gross berada pada level 1,57 persen.
Dari sisi pendanaan, struktur liabilitas perseroan makin kokoh. DPK BCA Syariah tumbuh 17,1 persen (YoY) menjadi Rp15,4 triliun.
Pertumbuhan ini didominasi oleh dana murah (Current Account Saving Account/CASA) yang melesat 25,7 persen (YoY) mencapai Rp6,3 triliun.
Kinerja positif pada fungsi intermediasi ini turut mengerek skala bisnis perseroan. Pada akhir 2025, total aset BCA Syariah tercatat sebesar Rp19,2 triliun, meningkat 15,4 persen (YoY).
