Jakarta, FORTUNE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi kinerja produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI/unitlink) perlahan tumbuh di tahun ini.
Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (KE PPDP) mengungkapkan perusahaan asuransi jiwa perlu meningkatkan transparansi manfaat dan risiko, memastikan kesesuaian produk dengan profil nasabah, dan menerapkan pengelolaan investasi yang berhati-hati untuk mencapai kinerja solid.
"Sepanjang didukung oleh perbaikan kualitas pengelolaan produk. Pendekatan tersebut menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan dan menjaga keberlanjutan produk unitlink," ujar Ogi dalam jawaban tertulis, Selasa (27/1).
Untuk meningkatkan minat terhadap produk unitlink tahun ini, OJK mengingatkan agar perusahaan asuransi lebih berfokus pada kualitas produk ketimbang kuantitas. Setiap pengembangan atau penawaran produk baru tetap harus memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk aspek manajemen risiko, transparansi, dan kepatuhan terhadap prinsip kehati-hatian.
Berdasarkan data industri, hingga November 2025, pendapatan premi dari lini usaha produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi sebesar Rp39,13 triliun, atau sekitar 23,87 persen dari total premi asuransi jiwa. Sementara itu dari sisi klaim, nilainya mencapai Rp54,76 triliun, atau sekitar 40,87 persen dari total klaim.
Menurut Ogi, angka tersebut mencerminkan proses penyesuaian pada produk unitlink masih berlangsung, baik dari sisi desain produk, pengelolaan investasi, maupun perilaku pemegang polis.
Sejalan dengan prediksi unitlink, OJK juga memprediksi produk endowment memiliki prospek pertumbuhan, khususnya bagi nasabah yang mengutamakan kepastian manfaat. Ogi menyebut, produk tradisonal ini memiliki kinerja yang lebih stabil seiring meningkatnya preferensi nasabah terhadap produk perlindungan dengan manfaat yang lebih pasti.
"Ke depan, OJK memandang kedua jenis produk tersebut dapat tumbuh secara berdampingan, sepanjang perusahaan asuransi mampu menyelaraskan pengembangan produk dengan kebutuhan dan profil risiko nasabah secara tepat," ujarnya.
